Senin, 17 Desember 2012

Pekerja Perum Bulog UB. Jastasma Ibarat Tikus Mati di Lumbung Padi

Pada suatu hari di bulan November saat itu saya sedang berada di kantor LBH Makassar, menulis surat untuk perkara seorang klien, HP ku saat itu tidak aktif (lobet), sehingga salah seorang kawan dari Serikat Pekerja Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) yang ingin menghubungiku harus melalui HP Bapak Direktur LBH Makassar Abd. Azis.
Menurut Bapak Direktur LBH Makassar kepada saya bahwa dia ditelepon oleh salah seorang aktifis buruh yang hendak mengadukan perkara salah satu serikat buruh tingkat perusahaan yang berafiliasi di serikatnya. Ternyata kawan itu adalah Akbar Ketua Kota Makassar dari Serikat Perjuangan Buruh Indonesia.
Sekira sejam lamanya, kawan itu tiba di kantor, dia bersama ketua dan sekertaris dari Serikat Pekerja UB. Jastasma sebuah serikat yang terbentuk di perusahaan Perum Bulog UB (Unit Bisnins) Jastasma dan berafiliasi pada serikat yang dipimpin oleh Akbar di Kota Makassar (SPBI). Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kawan ini hendak mengadukan perkara ketenagakerjaan yang terjadi di tempat kerja mereka.
Saya yang mewawancarai mereka, saat tiba pada pertanyaan “berapa upah di perusahaan bapak?” dia terdiam sejenak dan kemudian menjawab “saya diupah di tempat itu tidak tetap, kadang Rp. 25.000/bulan dan paling sering kami diupah sebanyak Rp. 100.000,-/Bulan, terkahir pada bulan ini kami diupah paling tinggi sebesar Rp. 1.000.000,-”. Saya sendiri tidak percaya dengan perkataan itu, saya kemudian menanyakan “bisa hidup dengan apa dengan upah hanya segitu?, dan mengapa pula bapak tetap bertahan pada perusahaan yang menindasnya tiada tara seperti itu?” dia kemudian menjawab “yah.., begitulah pak kami selama ini terpaksa hidup dengan pekerjaan tambahan, terdapat kawan-kawan yang terpaksa ngojek sepulang kerja, ada pula teman yang terpaksa membuka warung untuk menghidupi  keluarga, kami tetap bertahan diperusahaan itu karena kami selalu dijanji akan diangkat menjadi pegawai bulog, karena menurut anggapan perusahaan kami ini bukan karyawan bulog tapi outsourching dari UB. Jastasma”. Saya pun melanjutkan wawancara hingga akhir.
Mereka saat ini sedang membangun serikat pekerja untuk memperjuangkan hak-hak mereka, tapi ditengah pembangunan serikat mereka banyak mendapatkan intimidasi termasuk ancaman PHK dan Mutasi, bahkan ketua dan sekertaris serikat mereka telah di PHK.
Singkat cerita, sayapun mulai melakukan advokasi, tentunya tidak sendiri, saya dibantu oleh kawan-kawan SPBI, Dimulai dengan menyurati manajemen Perum Bulog UB. Jastasma untuk melakukan perundingan bipartit yang memang disyaratkan oleh undang-undang. Setelah itu saya melanjutkannya dengan melakukan penguatan serikat mereka dengan beberapa kali saya diajak ke sidrap, sidrap merupakan basis serikat pekerja UB. Jastasma terbesar, wajar karena di sidrap inilah tempat bulog paling banyak mempekerjakan pekerja.
Saya sudah lupa tepatnya, yang pasti pada suatu hari di penghujung bulan November, dipagi buta sekitar jam setengah tujuh, mereka sudah menjemput saya dengan mobil dikantor, saya memang sengaja menginap di kantor malam itu untuk menyelesaikan beberapa kerjaan yang belum kelar, saya yang baru bangun dengan malas meninggalkan tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi, setelah  mandi, berpakaian, dll sayapun mengambil sebuah roti sisa semalam yang terletak diatas meja kerja pak direktur LBH, lumayan buat mengganjal perut yang keroncongan. Sayapun segera berangkat, diatas mobil sudah menunggu beberapa kawan diantaranya Ketua (Andi Abdillah) dan beberapa orang anggota serikat, kami tidak langsung menuju ke sidrap, kami sebelumnya menuju ke rumah Akbar untuk menjemputnya katanya Akbar juga ingin ikut. Waktu itu sekertaris serikat (Afdal Hasyim) yang mengemudikan mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sekitar 100 km/jam, perjalanan ke sidrap dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 5 jam.
Kami tiba ditempat tujuan, disana telah menunggu sejak pagi beberapa perwakilan serikat dari tiap-tiap kabupaten, ternyata serikat pekerja ini ada di tiap kabupaten/kota di sul-sel bahkan sulbar, kamipun saling sapa dan kenalan satu sama lain. Kami istirahat sejanak, sekira setengah jam. Lalau kami lanjutkan dengan diskusi strategi penguatan serikat serta strategi perjuangan menuntut hak. Setelah berdiskusi, masing-masing orang berpendapat dan pada akhirnya disepakati beberapa strategi penguatan serikat dan strategi advokasi.
Kamipun pulang dengan membawa oleh-oleh berupa beras dan sedikit kue-kue yang saya tahu merekapun membeli kue itu di warung, lumayan buat disantap di perjalanan. Di perjalanan pulang, kami singgah beristirahat di suatu warung kopi, yah…, katanya sih sopirnya ngantuk, aku wkatu itu memesan kopi hitam, ada juga diantara kawan yang memesan kopi susu dan teh. Setelah sejam lamanya kami minum kopi dan ngobrol santai, kamipun melanjutkan perjalanan, kami tiba di makassar sekitar jam 1 dini hari.
Sudah sebulan lamanya surat perundingan bipartit telah diterima oleh pihak Perum Bulog UB. Jastasma, namun belum juga ditanggapi, sehingga menurut ketentuan, perundingan bipartit telah gagal, serikat pekerjapun mulai melakukan strategi Advokasi yang telah disepakati pada pertemuan sidrap, mereka berencana untuk melaporkan perkara ketenagakerjaan mereka ke kepolisian dan juga akan melakukan mogok kerja.
Sekitar awal Desember, mereka telah melaporkan perkara penghalang-halangan berserikat dan membayar upah dibawah standar UMP ke kepolisian, yang menarik, ketika penyidik terkaget saat mendengar keterangan mereka tentang jumlah upah yang dibayarkan perusahaan ke mereka tiap bulannya, salah seorang polisi yang juga berada diruangan pemeriksaan itu lalu berkata “kalian ini seperti tikus yang mati di lumbung padi, kalian yang menyediakan beras untuk kesejahteraan rakyat, tapi kalian yang kelaparan”. Selain melaporkan perkara mereka kepolisi, mereka (melalui serikat) juga memasukkan surat pemberitahuan akan melakukan mogok kerja, dan hingga cerita ini dibuat mereka masih melangsungkan mogok kerja dengan membuka tenda (yang mereka sebut tenda perjuangan) didepan pagar Perum Bulog Makassar, mereka menginap di tempat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar