Pada suatu hari di bulan November saat
itu saya sedang berada di kantor LBH Makassar, menulis surat untuk
perkara seorang klien, HP ku saat itu tidak aktif (lobet), sehingga
salah seorang kawan dari Serikat Pekerja Perjuangan Buruh Indonesia
(SPBI) yang ingin menghubungiku harus melalui HP Bapak Direktur LBH
Makassar Abd. Azis.
Menurut Bapak Direktur LBH Makassar
kepada saya bahwa dia ditelepon oleh salah seorang aktifis buruh yang
hendak mengadukan perkara salah satu serikat buruh tingkat perusahaan
yang berafiliasi di serikatnya. Ternyata kawan itu adalah Akbar Ketua
Kota Makassar dari Serikat Perjuangan Buruh Indonesia.

Sekira sejam lamanya, kawan itu tiba di
kantor, dia bersama ketua dan sekertaris dari Serikat Pekerja UB.
Jastasma sebuah serikat yang terbentuk di perusahaan Perum Bulog UB
(Unit Bisnins) Jastasma dan berafiliasi pada serikat yang dipimpin oleh
Akbar di Kota Makassar (SPBI). Seperti yang saya ceritakan sebelumnya,
kawan ini hendak mengadukan perkara ketenagakerjaan yang terjadi di
tempat kerja mereka.
Saya yang mewawancarai mereka, saat tiba
pada pertanyaan “berapa upah di perusahaan bapak?” dia terdiam sejenak
dan kemudian menjawab “saya diupah di tempat itu tidak tetap, kadang Rp.
25.000/bulan dan paling sering kami diupah sebanyak Rp.
100.000,-/Bulan, terkahir pada bulan ini kami diupah paling tinggi
sebesar Rp. 1.000.000,-”. Saya sendiri tidak percaya dengan perkataan
itu, saya kemudian menanyakan “bisa hidup dengan apa dengan upah hanya
segitu?, dan mengapa pula bapak tetap bertahan pada perusahaan yang
menindasnya tiada tara seperti itu?” dia kemudian menjawab “yah..,
begitulah pak kami selama ini terpaksa hidup dengan pekerjaan tambahan,
terdapat kawan-kawan yang terpaksa ngojek sepulang kerja, ada
pula teman yang terpaksa membuka warung untuk menghidupi keluarga, kami
tetap bertahan diperusahaan itu karena kami selalu dijanji akan
diangkat menjadi pegawai bulog, karena menurut anggapan perusahaan kami
ini bukan karyawan bulog tapi outsourching dari UB. Jastasma”. Saya pun melanjutkan wawancara hingga akhir.
Mereka saat ini sedang membangun serikat
pekerja untuk memperjuangkan hak-hak mereka, tapi ditengah pembangunan
serikat mereka banyak mendapatkan intimidasi termasuk ancaman PHK dan
Mutasi, bahkan ketua dan sekertaris serikat mereka telah di PHK.
Singkat cerita, sayapun mulai melakukan
advokasi, tentunya tidak sendiri, saya dibantu oleh kawan-kawan SPBI,
Dimulai dengan menyurati manajemen Perum Bulog UB. Jastasma untuk
melakukan perundingan bipartit yang memang disyaratkan oleh
undang-undang. Setelah itu saya melanjutkannya dengan melakukan
penguatan serikat mereka dengan beberapa kali saya diajak ke sidrap,
sidrap merupakan basis serikat pekerja UB. Jastasma terbesar, wajar
karena di sidrap inilah tempat bulog paling banyak mempekerjakan
pekerja.
Saya sudah lupa tepatnya, yang pasti pada
suatu hari di penghujung bulan November, dipagi buta sekitar jam
setengah tujuh, mereka sudah menjemput saya dengan mobil dikantor, saya
memang sengaja menginap di kantor malam itu untuk menyelesaikan beberapa
kerjaan yang belum kelar, saya yang baru bangun dengan malas
meninggalkan tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi, setelah
mandi, berpakaian, dll sayapun mengambil sebuah roti sisa semalam yang
terletak diatas meja kerja pak direktur LBH, lumayan buat mengganjal
perut yang keroncongan. Sayapun segera berangkat, diatas mobil sudah
menunggu beberapa kawan diantaranya Ketua (Andi Abdillah) dan beberapa
orang anggota serikat, kami tidak langsung menuju ke sidrap, kami
sebelumnya menuju ke rumah Akbar untuk menjemputnya katanya Akbar juga
ingin ikut. Waktu itu sekertaris serikat (Afdal Hasyim) yang
mengemudikan mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sekitar 100 km/jam,
perjalanan ke sidrap dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 5 jam.
Kami tiba ditempat tujuan, disana telah
menunggu sejak pagi beberapa perwakilan serikat dari tiap-tiap
kabupaten, ternyata serikat pekerja ini ada di tiap kabupaten/kota di
sul-sel bahkan sulbar, kamipun saling sapa dan kenalan satu sama lain.
Kami istirahat sejanak, sekira setengah jam. Lalau kami lanjutkan dengan
diskusi strategi penguatan serikat serta strategi perjuangan menuntut
hak. Setelah berdiskusi, masing-masing orang berpendapat dan pada
akhirnya disepakati beberapa strategi penguatan serikat dan strategi
advokasi.
Kamipun pulang dengan membawa oleh-oleh
berupa beras dan sedikit kue-kue yang saya tahu merekapun membeli kue
itu di warung, lumayan buat disantap di perjalanan. Di perjalanan
pulang, kami singgah beristirahat di suatu warung kopi, yah…, katanya
sih sopirnya ngantuk, aku wkatu itu memesan kopi hitam, ada juga
diantara kawan yang memesan kopi susu dan teh. Setelah sejam lamanya
kami minum kopi dan ngobrol santai, kamipun melanjutkan perjalanan, kami
tiba di makassar sekitar jam 1 dini hari.
Sudah sebulan lamanya surat perundingan
bipartit telah diterima oleh pihak Perum Bulog UB. Jastasma, namun belum
juga ditanggapi, sehingga menurut ketentuan, perundingan bipartit telah
gagal, serikat pekerjapun mulai melakukan strategi Advokasi yang telah
disepakati pada pertemuan sidrap, mereka berencana untuk melaporkan
perkara ketenagakerjaan mereka ke kepolisian dan juga akan melakukan
mogok kerja.
Sekitar awal Desember, mereka telah
melaporkan perkara penghalang-halangan berserikat dan membayar upah
dibawah standar UMP ke kepolisian, yang menarik, ketika penyidik
terkaget saat mendengar keterangan mereka tentang jumlah upah yang
dibayarkan perusahaan ke mereka tiap bulannya, salah seorang polisi yang
juga berada diruangan pemeriksaan itu lalu berkata “kalian ini seperti
tikus yang mati di lumbung padi, kalian yang menyediakan beras untuk
kesejahteraan rakyat, tapi kalian yang kelaparan”. Selain melaporkan
perkara mereka kepolisi, mereka (melalui serikat) juga memasukkan surat
pemberitahuan akan melakukan mogok kerja, dan hingga cerita ini dibuat
mereka masih melangsungkan mogok kerja dengan membuka tenda (yang mereka
sebut tenda perjuangan) didepan pagar Perum Bulog Makassar, mereka
menginap di tempat tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar