Kamis, 02 Oktober 2014

BERAS RASKIN TAK LAYAK DIKONSUMSI

Rabu, 1 Oktober 2014

Tahuna – Kembali jatah beras raskin yang diperuntukan bagi warga miskin ini dikeluhkan oleh ketua LSM Kadademahe Marslem Pulungbara, pasalnya beras yang belum sempat dibagikan kewarga miskin tersebut dinilai tidak dibawa standar kualitas dan tidak layak dikonsumsi.

“ Seperti yang saya temukan di Kampung Gunung kecamatan Tabukan Tengah dan Kampung Bowongkulu Tabukan Utara beras raskin jauh dibawa standar kualitas bahkan tidak layak dikonsumsi.” Kata Pulungbara

Dirinya juga memintah kepada pihak Bulog yang dalam hal ini sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk lebih peka walaupun ada pihak ketiga yang mensuplai bersa tersebut, bahkan DPRD untuk jeli melihat kondisi yang terjadi saat ini.

“ kalaupun pihak Bulog tetap lalai atau sengaja saya memintah pihak berwajib untuk mengusut kasus ini.” Tegasnya

Sementara itu, Pihak Sub Drivre Bulog Tahuna mengakui adanya beras rusak dan tak layak konsumsi ini terdistribusi di sejumlah kampung, namun setelah mendapat informasi dari Kapitalaung, Pihaknya langsung menganti beras tersebut.

“ Ia benar ada beras yang tidak layak dikonsumsi yang sudah terdistribusi ke kampung – kampung tapi kami sudah mengantinya.” Ungkap Kepala bulog Tahuna Samsudin, Sambil meminta secepatnya memberikan informasi ke pihak Bulog apabila masih ada beras yang rusak untuk segera diganti.(gun)


http://beritamanado.com/beras-raskin-tak-layak-dikonsumsi/

Cadangan Beras Bakal Berkurang 500 Ribu Ton, Bulog Mau Impor

Rabu, 1 Oktober 2014

RMOL. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi kemarau dan kekeringan yang terjadi di beberapa daerah akan berdampak pada mundurnya musim panen. Aki­bat­nya, produksi beras dalam negeri bakal berkurang.

Deputi Bidang Statistik Distri­busi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wi­­bowo mengatakan, jika sam­pai No­vember masih musim kering, ma­ka produksi beras akan berkurang.

“Bisa Januari hingga Febuari berkurang. Kalau Maret itu pun­cak panen, yang biasanya dita­nam November hingga Januari panennya di Maret-April. Tapi kalau masih kering, panen ada tapi April puncaknya,” katanya.

Seharusnya, kata dia, musim kekeringan mulai Mei terus ber­henti di Oktober. Tapi jika dilihat kondisi yang ada, musim keke­ringan akan terus belanjut.

Sasmito mengatakan, dengan ber­gesernya puncak musim pa­nen akan membuat harga beras melonjak. Kendati demikian, dia yakin persiapan Bulog menyiap­kan pasokan pangan khususnya beras akan tercukupi.

“Kalau lihat itu berarti harus ada cadangan, Bulog berusaha beli di dalam negeri atau luar ne­geri sehingga akan suplai pasar bukan hanya beras murah saja, mereka juga punya beras pre­mium untuk jaga pasar,” katanya.

Menurut dia, pekerjaan utama Bulog adalah menjaga stabilitas harga dan melakukan pembelian di dalam negeri.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, mundurnya musim panen akan berdampak pada berkurangnya produksi beras dalam negeri. Ia mencontohkan, mundurnya mu­sim panen yang terjadi tahun ini.

Akibat mundurnya musim panen karena banjir, luas lahan panen berkurang yang menye­babkan produksi pertanian ber­kurang. Kondisi ini menye­babkan serapan Bulog berkurang dan berdampak pada cadangan beras.

Padahal, pemerintah menugas­kan Bulog untuk tetap menjaga stok pada angka 2 juta ton. Se­mentara saat ini cadangan beras di gudang tinggal 1,8 juta ton. Stok itu akan berkurang 500 ribu ton hingga akhir tahun untuk raskin.

”Nah, untuk memenuhi paso­kan itu terpaksa harus melakukan impor. Tapi nilainya sedikit untuk menutupi kekurangan saja akibat mundurnya waktu panen,” kata Sutarto kepada Rakyat Merdeka.

Berasnya sendiri, menurut Su-tarto, biasanya akan diambil dari Vietnam, Thailand dan Myanmar. Namun, perlu ditegaskan, impor dilakukan karena produksi dalam negeri terganggu. ***

http://m.rmol.co/news.php?id=174167

Selasa, 30 September 2014

Diduga Ada Mafia Raskin, Rekanan Angkutan Bulog Harus Diawasi

Minggu, 28 September 2014

MALINGPING, BANPOS – Terkait seringnya warga rumah tangga miskin penerima manfaat (RTM-PM) di Lebak Selatan yang selalu mengeluhkan mendapatkan raskin jelek karena kusam dan berdebu, salah seorang rekanan penyedia beras untuk Bulog di Lebak Sealatan membantah bahwa pihaknya tidak pernah mencederai kualitas beras pesanan Bulog. Namun ia mengherankan, padahal beras yang dikirimya itu selalu utuh dan bagus, tetapi perubahan terjadi saat pendistribusian.

Dirinya juga menuding, ada rekanan perusahaan angkutan beras Bulog yang main mata, dan perlu diawasi. Karena ia menduga permainan itu justru mungkin terjadi disana.

Saat menghubungi BANPOS, Minggu (29/9) salah satu rekanan Bulog ternama yang identitasnya secara wanti-wanti minta jangan disebutkan. Ia mengatakan, bahwa pihaknya sebagai rekanan pengadaan raskin yang bekerjasama dengan Bulog selalu mengirimkan kualitas beras yang bagus dan layak konsumsi, namun karena ada keterlibatan rekanan distributor angkutan Bulog yang merangkap sebagai rekanan penyalur raskin juga, maka beras itu ada perubahan.

“Ya kalau beras dari kami semuanya bagus dan boleh uji kualitas, kami tidak tahu kenapa beras itu sampai di penerima manfaat kok jadi berubah jelek,” katanya.

Dia juga membantah, bahwa pihaknya menolak kalau dituding sebagai mafia raskin. Gara-gara kondisi raskin yang kusam berdebu dan tidaka layak makan tersebut.

“Kalau tidak percaya, silahkan beras kiriman saya itu diuji kualitas di Bulog. Setiap kami kirim ke angkutan, dan kami siap mempertanggungjawabkan jika ada beras yang disebut tidak layak makan itu,” bantahnya.

Lanjutnya, untuk Bulog Subdrive Lebak-Pandeglang saat ini memang ada kerjasama angkutan raskin dengan rekanan pemilik armada sehingga angkutan itu pun dimonopoli pemilik armada yang juga merangkap rekanan penyedia raskin pula. Dia mencontohkan, bahwa untuk kawasan Serang dan Cilegon itu tidak ada rekanan angkutan Bulog.

“Kalau di Bulog sini armada angkut pun ada rekanannya, tapi di daerah Serang Cilegon tidak ada, jadi raskin itu bebas dikirim oleh angkutan manapun tanpa ada rekanan armada angkut,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Gudang Bulog Wilayah Lebak Selatan di Malingping, Naek Fedrianto, saat dihubungi via telepon membantahnya, bahwa pihaknya selalu mengawasi beras Bulog dari mulai di rekanan, saat masuk gudang hingga pendistribusian.

“Tidak benar kalau ada dugaan beras Bulog itu terjadi perubahan pada pendistribusian hingga ke titik sasaran, dan selama ini beras yang kami kirim selalu dijaga mutu dan kualitasnya hingga pengawasan saat dikirim ke desa-desa,” sanggahnya.

Menurut Naek, hingga saat ini pihaknya pun masih terus melakukan uji petik ke setiap titik sasaran menyangkut dugaan adanya kualitas beras yang sering dituding kualitas tak layak dimakan itu.

“Tapi hingga saat ini kami belum menemukan laporan adanya beras yang kualitas buruk sebagaimana yang diberitakan media masa dari sumber warga penerima manfaat.

“Ya beritanya senter sih, tapi sampai saat ini kami belum menerima laporan dari tim kami kalau ada beras raskin yang kualitasnya jelek,” ujarnya.

Terpisah, salah seorang warga RTM-PM di Malingping, Zen Zaenuddin saat menghubungi BANPOS, Minggu (28/9/14), dirinya menuding pihak Bulog itu tidak obyektif dalam membela kepentingan warga miskin. Dan malah menganggap selama ini kualitas beras dari mereka selalu baik, padahal sebaliknya,  bahwa beras raskin kusam dan berdebu dan tidak layak dikonsumsi itu fakta adanya.

“Pokoknya sampai saat ini sampel beras raskin jelek yang saya beli itu hingga kini selalu saya simpan untuk bukti agar masalah ini tidak dianggap main-main,” tegasnya.(K-9)

http://bantenpos.co/arsip/2014/09/diduga-ada-mafia-raskin-rekanan-angkutan-bulog-harus-diawasi/

Kamis, 25 September 2014

Beras Raskin Tak Layak Makan Dijual ke Masyarakat

Kamis, 25 September 2014

SOREANG,(GM).-
Sejumlah anggota DPRD dari Fraksi PDIP Kab. Bandung, menemukan adanya beras raskin yang dijual ke masyarakat tidak layak dimakan. Temuan ini harus jadi perhatian Pemkab Bandung dan sudah selayaknya beras tersebut dikembalikan ke Bulog.
Ketua Fraksi PDIP Kab. Bandung, Ecep Sujana kepada klik-galamedia.com, Kamis (25/9) menuturkan, ketika ke lapangan, pihaknya mendapat keluhan dari masyarakat, dimana beras raskrin yang dijual ke masyarakat tidak layak dikonsumsi. Beras tidak layak konsumsi ini, di antaranya dijual di sejumlah desa di Kec. Majalaya, Paseh, Solokan Jeruk, Ibun dan Ciparay.
"Banyak laporan dari masyarakat yang mengeluhkan beras raskin. Kami juga memandang beras itu tidak layak konsumsi karena selain warnanya hitam, juga bau," katanya yang dibenarkan salah seorang anggota DPRD dari Fraksi PDIP Kab. Bandung, Yayat Sumirat.
Dengan masih adanya beras tidak layak konsumsi, Ecep menuturkan, hal ini perlu disikapi bersama antara Bulog dan Pemkab bandung. Pihaknyapun akan terus mengawasinya, karena pengawasan selama ini dianggap kurang.
Disinggung apakah akan melakukan pemanggilan terhadap pihak yang terkait, Ecep mengaku, hal ini akan dilakukan setelah pelantikan pimpinan DPRD Kab. Bandung definitif.
"Setelah pimpinan DPRD Kab. Bandung definitif dilantik, kita akan langsung kerja dan melakukan pemanggilan pihak terkait terhadap beras raskin ini. Pemkab Bandung harusnya tahu masih adanya beras raskin yang tidak layak makan masih dijual ke masyarakat," jelasnya.

http://www.klik-galamedia.com/2014-09-25/beras-raskin-tak-layak-makan-dijual-ke-masyarakat

Kegiatan UPGB Kian Meresahkan Rekanan Bulog

Kamis, 25 September 2014

WATAMPONE, BKM -- Kehadiran Unit Pengolahan Gabah Beras (UPGB) kembali memunculkan persoalan baru. Salah satu usaha bisnis di bawah naungan Bulog ini selain terkesan memonopoli pemasukan beras di gudang Bulog, juga menerapkan harga pembelian yang bervariasi.
Salah seorang mitra Bulog Andi Seldy menilai, seharusnya UPGB tidak bertindak layaknya rekanan pada umumnya. ''UPGB itu kan unit usaha bisnis milik Bulog. Tugasnya hanya mengolah gabah dan beras. Tapi nyatanya sekarang tidak mengolah gabah dan beras. Karena terbukti pabriknya tidak pernah beroperasi.  Justru melakukan pembelian beras dan langsung ke mitra,'' jelas Seldy, kemarin.
Sementara harga gabah yang diberlakukan, menurut Seldy, mulai dari Rp6.500 hingga Rp6.580 per kilogram. ''Kalau bicara pembelian, sudah pasti kita sebagai mitra pasti kalah bersaing. Pertama, karena UPGB itu adalah unit usaha  milik Bulog yang dijalankan oleh pegawai Bulog yang berstatus organik. Sedangkan kami ini orang luar. UPGB leluasa memainkan harga karena modal pembeliannya ditunjang oleh Bulog. Pembeliannya selalu di atas harga para rekanan. Kalau UPGB dibiarkan seperti ini, kami pengusaha bisa bangkrut,'' jelas Seldy.
Persoalan ini ditanggapi Ketua LSM Latenritatta Muhawas Rasyid. Dia bahkan memberi atensi khusus dan akan menindaklanjutinya dengan melaporkannya ke pihak berwajib. ''Ini persoalan serius dan harus disikapi. Masalahnya ini adalah bisnis dalam tubuh BUMN. Jadi indikasi monopoli bisa terjadi. Indikasi korupsi juga ada, karena UPGB adalah unit  bisnis dari BUMN,'' terangnya.
Selain itu, menurut Muhawas, keuntungan yang diperoleh kuat dugaan bisa masuk kantong pribadi. Sementara indikasi pelanggaran sebagai karyawan BUMN, karena aturannya jelas bahwa pegawai organik BUMN dipertanyakan kalau  dia melakukan bisnis yang sama di tempat kerjanya.
Kepala Seksi Logistik Wilayah Bone Umar yang dikonfirmasi, berdalih bahwa Kantor Seksi Logistik dan UPGB hanya satu bendera tapi lain pekerjaan. Menurutnya, apa yang dilakukan UPGB sah-sah saja sebagai unit usaha milik Bulog.
“UPGB adalah unit usaha resmi dari Bulog dan pegawainya berstatus organik. Mereka juga memiliki kontrak kerja sama dengan pengusaha atau rekanan.  Sebenarnya UPGB itu mengolah gabah. Ada pabrik tapi biayanya tinggi. Jadi lebih baik beli beras.  Persoalan  harga yang bervariasi, itu wajar saja karena mau untung,'' kata Umar, yang sebelumnya mengakui jika pihaknya dan UPGB adalah unit yang berbeda.
Sementara itu H Bahar, Kepala UPGB Gudang Carawali Apala yang dikonfirmasi, tidak bisa memberikan jawaban pasti, baik secara lisan maupun tertulis. ''Saya tidak bisa  berikan jawaban. Saya tidak tahu harus bilang apa,'' katanya polos. (amr/rus/c)

Rabu, 24 September 2014

Raskin Bau dan Berkutu

Rabu, 24 September 2014

Warga Tanimulya Mengeluh

NGAMPRAH,(GM).-
Warga Desa Tanimulya, Kec. Ngamprah, Kab. Bandung Ba­rat mengaku sangat kecewa ka­rena suplai beras untuk warga miskin (raskin) kualitasnya sangat buruk. Mereka mendapatkan raskin bubuk dan ber­kutu pada periode pengiriman Agustus 2014. Kendati demi­kian, mereka tetap membeli­nya dengan harga Rp 2.000/kg.
Iyoh Hayati (48), warga Kampung Cidahu, RT 01/RW 01, Desa Tanimulya, Kecamat­an Ngamprah, terpaksa mencampur raskin dengan beras yang biasa dibelinya di pasar.
“Kiriman bulan Agustus selain bubuk, banyak kutu, juga bau apek. Untuk menghilang­kan bau apeknya kadang harus diheler lagi. Enggak apa-apa jadi tambah bubuk asal tidak bau apek dan rasanya jadi lebih enak,” katanya di Ngamprah, Selasa (23/9).
Iyoh menambahkan, tidak se­lamanya raskin yang dibeli berkualitas jelek. Pada pengiriman awal September 2014 kua­litasnya cukup baik. Bagi Iyoh yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT), raskin sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan pokok.
“Rasanya berat kalau setiap hari harus beli beras di pasar. Sekarang harga paling murah Rp 8.000/kg, sedangkan ras­kin hanya Rp 2.000/kg,” ujarnya.
Kurang bagusnya kualitas ras­kin dibenarkan anggota Ba­dan Permusyawaratan Desa (BPD) Tanimulya, Kusmana. Menurutnya, banyak warga yang melaporkan buruknya kualitas raskin. Bahkan tidak sedikit yang batal membeli karena tidak layak konsumsi.
“Kadang-kadang bagus tapi ada yang jelek juga. Karena itu, kami minta kepada Bulog agar tidak menjual raskin yang kurang bagus. Kalau memungkinkan, kami minta penambahan kuota, sebab di Desa Tanimulya banyak warga yang berprofesi sebagai petani padi maupun sayuran yang pada musim kemarau ini tidak bisa menggarap lahannya,” tutur Kusmana.
Harus dievaluasi
Wakil Ketua DPRD KBB, Su­narya Erawan mengatakan, te­muan beras raskin berkualitas rendah di KBB harus menjadi bahan evaluasi Bulog. Pemkab Bandung Barat juga harus mem­perhatikan kualitas ras­kin yang akan disalurkan kepada rumah tangga sasaran (RTS).
“Saya menerima laporan dari masyarakat, raskin yang mereka terima kurang layak. Kasihan mereka, apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Musim kemarau membuat ladang ekonomi mereka tak bisa digarap,” katanya.
Menurutnya, dalam kondisi sekarang raskin sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah. Para petani bisa kehilangan pendapatan selama belum turun hujan.
“Keur mah sangsara, beasna goreng deuih. Sebisa mungkin berikanlah beras yang lebih baik, sehingga kalaupun lauk-pauknya hanya sambal dan asin tapi nasinya pulen,” imbuhnya.
(B.104)**

http://www.klik-galamedia.com/2014-09-24/raskin-bau-dan-berkutu

Senin, 22 September 2014

Mantan Kades Ciparahu Akui Warganya Dapat Raskin Jelek

Minggu, 21 September 2014

Ancam Akan Melaporkan ke Pusat

MALINGPING, BANPOS – Setelah mendengar dan memastikan adanya salah seorang warga Desa Ciparahu yang mendapatkan raskin jelek , mantan Kades Ciparahu, Lebak mengancam akan melaporkan temuan warga tersebut ke pusat.

“Kusam, banyak dedaknya, dan ada kutunya. Meskipun masih bisa dikonsumsi, itu pembagian yang sangat tidak manusiawi,” ujar mantan Kades Ciparahu itu menandaskan, saat dihubungi wartawan via telepon selulernya.

Menurut Ade, raskin dengan kualitas rendah itu dikirim berturut-turut dalam lima kali distribusi. Warga penerima manfaat raskin sebenarnya protes dengan kualitas raskin yang dibeli mereka.

“Tapi sepertinya keluhan warga tidak direspons oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam alur distribusi,” ujarnya.

Pihaknya juga mengancam akan membawa raskin kualitas rendah yang diterima masyarakat ke kantor Bulog pusat dan ke komisi terkait di DPR RI dan DPRD jika pada distribusi selanjutnya masyarakat miskin masih dikirimi beras kusam, berdebu,  dan berkutu.

“Kami merasa tidak dimanusiakan. Meskipun secara pribadi saya bukan penerima manfaat,  penerima raskin itu adalah warga dan kerabat saya. Saya curiga ada oknum di Subdivre Lebak yang ikut bermain dengan mitra penyedia beras sehingga raskin yang dikirim masih saja ada yang berkualitas buruk,” papar Ade.

Sementara itu aktivis Kumala Firman Alamsyah menuding, bahwa dalam hal raskin kualitas rendah tersebut, pihaknya menduga banyak mafia yang bermain, dan mereka itu dipastikan penyebabnya.

“Kualitas raskin jelek ini akibat banyak mafia raskin yang cuma ngambil untung tanpa peduli warga miskin penerima manfaat, kami berharap masalah ini harus dibongkar oleh aparat hukum, “ tandasnya.

Terpisah beberapa waktu lalu, Kepala Gudang Bulog wilayah Selatan di Malingping, Naek Fedrianto saat ditanya BANPOS, hanya menjelaskan datar, jika ditemukan ada raskin jelek pihaknya akan segera mengganti dengan yang bagus, jika warga mau menukarkan.

“Kalau memang ada raskin yang diterima tidak layak, kami siap menggantinya langsung, dan silahkan bawa dan tukarkan kepada kami, ” jelas Naek. (K-9)

http://bantenpos.co/arsip/2014/09/mantan-kades-ciparahu-akui-warganya-dapat-raskin-jelek/