Senin, 01 September 2014

Berat Raskin Menyusut

Senin, 1 September 2014

Warga Cijambe Mengeluh.

GARUT,(GM).-
Seringnya terjadi pengurangan bobot beras untuk keluarga miskin (raskin) banyak dike­luh­kan masyarakat Desa Cijambe, Kec. Cikelet, Kab. Garut. Berkurangnya bobot menjadi kerugian karena berat beras yang harus dibayar tidak sesuai dengan yang diterima.
Ketua RT 07 RW 03, Desa Cijambe, Kec. Cikelet, Zenal Mutaqin, Minggu (31/8) menutur­kan, selama ini jatah raskin yang diterima isinya hampir tidak pernah utuh sesuai bobot seharusnya. Menurut Zenal, seharusnya satu karung berisi 15 kilgram beras. Namun setiap kali dibuka dan ditimbang kembali, rata-rata mengalami penyusutan antara 2 - 3 kg per karung.
“Setelah ditimbang kembali, rata-rata hanya ada 12 kg beras per karungnya, ini sudah sa­ngat sering terjadi. Kami sudah berulangkali melakukan protes. Namun tak pernah ada perubahan,” ujarnya.
Di sisi lain, jumlah penerima raskin di lingkup RT-nya cukup banyak. Padahal kalaupun jumlah raskin yang diterima untuk warganya sesuai bobot seharusnya, itu pun masih belum mencukupi kebutuhan.
Hal senada diungkapkan Ke­tua RT 03 Desa Cijambe, Dede Sugiri. Pihaknya paling dirugi­kan dalam masalah ini. Menurut Dede, pihak desa tidak mau tahu perihal penyusutan beras. Uang yang dibayarkan harus selalu berdasarkan jumlah karung.
“Uang yang harus saya setor­kan ke desa harus berdasarkan jumlah karung. Keterangannya setiap karungnya berisi 15 kg beras. Padahal kenyataannya, setelah ditimbang kembali setiap karung rata-rata hanya berisi 12 kg beras saja. Ya, akhirnya mau tidak mau saya harus nombok­an ke desa” tuturnya.
Selama ini dirinya hanya mendapatkan jatah raskin 105 ka­rung. Sementara jumlah warga seluruhnya mencapai 700 KK. Dari 700 KK yang ada di lingkup RW 03, 500 KK di antaranya me­rupakan warga mis­kin yang sangat mengharapkan jatah raskin. Untuk memenuhi kebutuhan warga tersebut, selama ini diri­nya selalu mengambil tambahan beras dari dapurnya sen­diri sebanyak 5 kg. Hal ini terpaksa dilakukan agar semua warga miskin di daerahnya bisa mendapatkan jatah.
Bahkan, tak hanya bobot saja yang dikeluhkan. Baik Dede maupun Zenal juga menge­luh­kan kualitas raskin yang sering­kali tidak layak konsumsi.
“Selama ini, tak jarang kami mendapatkan keluhan dari warga tetang buruknya kualitas raskin yang mereka terima,” katanya.

(ags)**

http://www.klik-galamedia.com/2014-09-01/warga-cijambe-mengeluh

Sabtu, 30 Agustus 2014

Penyaluran Beras Miskin Belum Tepat Sasaran

Sabtu, 30 Agustus 2014

JAKARTA – Hasil penelitian menunjukkan keefektifan program beras untuk rakyat miskin (raskin) masih jauh dari harapan. Hal itu terlihat dari ketidaktepatan sasaran, harga, jumlah, kualitas, waktu, dan administrasi.

Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al Jufri, mengatakan program beras untuk rakyat miskin (raskin) tahun ini ditetapkan menyasar 15.530.837 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). Salim mengakui bahwa hasil penelitian menunjukkan keefektifan program raskin masih jauh dari harapan.

"Hal ini terlihat dari ketidaktepatan sasaran, harga, jumlah, kualitas, waktu, dan administrasi," kata Salim, di Jakarta, Jumat (29/8).

Padahal, kata Salim, raskin merupakan amanah negara sehingga program ini perlu ditangani oleh operator andal dan berintegritas. "Itu untuk menjauhkan dari kepentingan kelompok ataupun bisnis semata," kata Salim.

Dia mengatakan jika penanganan seperti itu tidak ada, dipastikan hanya akan menambah rumit pelaksanaannya. Untuk mengefektifkan program raskin di lapangan, secara berkala dilakukan monitoring, audit sejak awal pengguliran, pelaksanaan, serta pemanfaatannya.

Hal ini menjadi penting untuk memantapkan bahwa raskin terdistribusi tepat waktu, tepat sasaran, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat harga, serta tepat administrasi.

Salim menjamin keragu-raguan masyarakat akan berkurang seiring dengan semakin taatnya program ini pada asas patut dan patuh. "Artinya, patuh untuk menjalankan aturan dan patut dimaknai penyaluran dengan keniscayaan," tegasnya.

Lakukan Pendampingan

Selain itu, langkah yang ditempuh untuk mengefektifkan pelaksanaan program penyaluran raskin ini, Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng TKSK untuk melakukan pendampingan penyaluran yang diawali dengan pembekalan alur penyelenggaraan raskin.

TKSK akan bertugas untuk melakukan sosialisasi program raskin kepada masyarakat agar mereka mengetahui tujuan, sasaran, dan manfaat program. Penyebarluasan informasi subsidi raskin dilaksanakan di 18 titik lokasi dengan melibatkan 6.994 TKSK di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, kemiskinan berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat. Untuk mengatasinya pemerintah telah menggulirkan program raskin sejak 16 tahun lalu.

Hingga kini, beras menjadi salah satu komponen terbesar bagi keluarga miskin. Kemampuan mereka untuk membeli beras masih jauh panggang dari api, sementara tuntutan atas kebutuhan gizi masyarakat sehat terus meningkat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, angka kemiskinan berada pada kisaran 11,25 persen atau 28,28 juta jiwa. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah menurunkan angka kemiskinan hingga 8 hingga 10 persen di akhir RPJMN II. "Angka kemiskinan seiring pergerakan ekonomi diramalkan terus meningkat karena berbagai sektor secara angka statistik juga meningkat," tandasnya. (cit/N-1)

http://koran-jakarta.com/?19074-penyaluran%20beras%20miskin%20belum%20tepat%20sasaran

RASKIN, BERAS KEDALUAWARSA BAGI SI MISKIN

Jumat, 29 Agustus 2014

Program beras untuk rakyat miskin atau raskin, sebenarnya sebuah program yang strategis bagi masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya dilapangan, banyak menimbulkan polemik. Bukan hanya soal target program ini adalah rumah tangga sasaran, melainkan kualitas beras yang justru seringkali menjadi bumerang.
Program pemerintah yang seharusnya menjadi kebijakan pro rakyat, justru menjelma menjadi program menambah kekecewaan rakyat miskin akibat kualitas raskin tidak layak untuk dikonsumsi atau kedaluwarsa. Bukannya senang, rakyat miskin yang menerimanya malah justru mengeluh hingga mencaci niat baik pemerintah itu. Warga Lingkungan Ciwaduk Cilik, Kelurahan Ciwaduk, Kota Cilegon, misalnya, mengeluhkan kualitas raskin yang tidak layak konsumsi. Meski gratis, warga justru kecewa dengan kualitas salah satu program pro rakyat fase kelima pemerintahan H. Tubagus Iman Ariyadi dan H. Edi Ariadi tersebut.
Bukan tanpa sebab, beras yang diperuntukkan bagi rumah tangga sasaran (RTS) tersebut berwarna kuning kecoklatan dan penuh kutu serta butir-butirnya yang sudah pecah. Seorang warga RT 8 RW 4 Lingkungan Ciwaduk Cilik, Kelurahan Ciwaduk, Hanifah, mengaku sangat kecewa dengan buruknya kualitas raskin tersebut.
Namun, Hanifah tidak dapat berbuat banyak lantaran takut tidak mendapatkan jatah raskin lagi.“Ya saya diemin aja, mau diapain lagi. Dibuang sayang, tapi dimakan gak bisa. Kalau dimasak bau apek,” kata Hanifah.
Menurut Hanifah, beras raskin yang dibagikan, Kamis (28/8) tersebut diambil warga dari rumah Ketua RT setempat. Saat mengambil raskin, warga diminta memberikan uang sukarela senilai Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu.“Katanya uang sukarela untuk beli plastik,” ujarnya.
Warga lain, Wiwin mengatakan, warga belum pernah mendapatkan raskin berkualitas baik. Raskin yang didapat, kata dia, selalu berkutu, berwarna kecoklatan, dan berbau apek setelah dimasak.“Sesekali dapat yang mendingan, tapi jarang banget. Itu pun setelah dimasak rasanya tetap bau apek,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi, Lurah Ciwaduk, Ali Fadni mengakui buruknya kualitas raskin tersebut. Namun, menurut dia, beras raskin yang dibagikan kepada warga sudah jauh lebih baik dibanding raskin yang pertama dikirim oleh Bulog.
“Tadinya waktu dikirim hari Selasa, kualitasnya jauh lebih parah. Saya takut warga saya keracunan kalau makan itu. Makanya, langsung saya kembalikan ke Bulog untuk ditukar yang baru. Besoknya beras datang, tapi kualitasnya tidak jauh beda. Mau saya tukar lagi tapi warga keburu datang untuk mengambil berasnya,” kata Ali, seraya mengatakan bahwa Kelurahan Ciwaduk mendapat jatah 122 karung berisi 15 kilogram raskin untuk 122 RTS. (Vanny/"Job”)***

Kamis, 28 Agustus 2014

6.994 TKSK SIAP KAWAL DISTRIBUSI RASKIN

Kamis, 28 Agustus 2014

SAPA - Sebanyak 6.994 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) siap mengawal penyaluran raskin bagi 15,5 juta masyarakat miskin di seluruh Indonesia.

Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial Hartono Laras ketika dihubungi menjelaskan, penunjukan TKSK dalam program raskin tahun 2014 ini merupakan bagian dari upaya

perbaikan program raskin yang sebelumnya dikritisi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Para TKSK ini sudah mendapat pelatihan sebelumnya. Mereka akan mengawasi proses penyalurannya, agar tepat sasaran dan tepat jumlah serta kualitasnya memenuhi standar yang ditentukan pemerintah," kata Hartono, Kamis.

Seperti diketahui, Kemensos menjadi Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada program raskin yang pada 2014 anggarannya mencapai Rp18,8 triliun. Raskin diberikan untuk 15,5 juta rumah tangga sasaran sebanyak 15 kilogram per bulan setiap rumah tangga.

Ketika ditanya tentang banyaknya masyarakat yang mengeluhkan kualitas beras yang diterimanya, Hartono mengatakan Kementerian Sosial sudah meminta Perum Bulog mengganti beras subsidi untuk warga miskin (raskin) dengan kualitas yang baik.

Menururtnya, beras tidak layak hanya kasuistis sifatnya, sebab tidak terjadi di semua daerah.

Ia menjelaskan Kemensos sudah melakukan upaya perbaikan, misalnya dengan membentuk tim verifikasi melibatkan kementerian dan lembaga terkait.

Selain itu, Kemensos juga meminta pengawalan program raskin dari Irjen Kemensos untuk intern, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta KPK. "Kita juga membentuk tim percepatan dan pengendalian pembayaran beras," ujarnya.

Ia menambahkan, peluncuran program raskin akan diselenggarakan serentak di Indonesia pada hari Jumat dan peresmian simbolisnya dilakukan oleh Menteri Sosial di Kantor Kemensos di Jakarta.

Sumber: Poskotanews dot com

KUALITAS BERAS BULOG DI SUBANG SANGAT BURUK

Rabu, 27 Agustus 2014

Penerima bantuan beras bagi keluarga miskin atau RASKIN disejumlah wilayah di Desa Rancajaya, Kecamatan Patokbeusi Subang, mengeluhkan bantuan yang mereka terima karena kualitasnya buruk dan tak layak konsumsi.

Menurut warga penerima bantuan RASKIN, Beras yang mereka terima kali ini banyak yang hancur , berbau apek, berkutu dan berwarna kuning. Selain berkualitas buruk, beras raskin ini juga datang terlambat.


http://kemuningtv.com/kualitas-beras-bulog-di-subang-sangat-buruk

Rabu, 27 Agustus 2014

Warga Cireng Tolak Raskin

Rabu, 27 Agustus 2014

RUTENG, TIMEX - Warga Desa Cireng Kecamatan Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai menolak alokasi beras untuk masyarakat miskin (raskin) bagi ratusan penerima. Mereka mengembalikan raskin ke kantor Subdivre Ruteng.
Pasalnya, jatah raskin tersebut tidak sesuai karena sudah disunat oleh pihak tertentu. "Kita kembalikan saja raskin tersebut ke kantor Bulog dalam karung tertulis 15 kg tetapi banyak karung berlubang, sehingga diduga beratnya tidak sesuai," kata Markus Jenaru, salah satu warga kepada Timor Express, Senin (25/8).
Dikatakan, Jumat (22/8) lalu, petugas Bulog Ruteng mengantar jatah raskin untuk 159 orang penerima di desa itu. Sebelum diserahkan, petugas membuat berita acara dan ditandatangani oleh kepala desa. Namun setelah dicek, ternyata banyak karung berlubang dan beras sebagian besar tidak sesuai takarannya.
Karena itu, Sabtu 23 Agustus lalu warga melaporkan kasus tersebut ke Bagian Ekonomi Setda Manggarai kemudian disarankan untuk menyampaikan langsung ke Bulog Ruteng.
"Karena itu, kami antar kembali semua beras tersebut, sebab tidak sesuai takaran yang tertera," ujarnya.
Dikatakan, warga menduga beras tersebut telah disunat oleh pihak tertentu baik di gudang maupun dalam perjalanan ke Desa Cireng. Karena itu, warga meminta agar memperhatikan persoalan seperti ini sehingga tidak merugikan masyarakat.
Terpisah, Kepala Subdivre Ruteng, Imanuel Louk membenarkan hal itu. Dikatakan, warga mengembalikan raskin yang karungnya sudah bocor. Memang kelihatan ada kekurangan berat.
Imanuel menegaskan, semua jatah raskin untuk warga sebanyak 159 orang penerima diganti seluruhnya. "Benar ada pengembalian dan kita ganti seluruhnya beras tersebut," ujarnya.
Dikatakan, jumlah beras yang dialokasikan sebanyak 14,320 kg jatah raskin dari Juli sampai Desember tahun ini. “Karena ada penolakan, maka seluruhnya kita ganti apalagi sebagian besar masyarakat penerima menolak raskin yang bocor tersebut,” ujarnya.
Anggota DPRD Manggarai, David Suda meminta Subdivre Ruteng tidak menyalurkan beras yang tidak sesuai takaran. Jika sudah ada indikasi karung bocor atau berat bersihnya kurang, maka Bulog tidak perlu menyalurkan, sebab berisiko bagi masyarakat. "Kalau sudah ada karung yang bocor, maka tidak perlu dibagikan kepada warga karena yang jelas beratnya tidak sesuai," katanya. (kr2/ays)


Selasa, 26 Agustus 2014

DUA PEGAWAI BULOG DIPERIKSA 7 JAM

Selasa, 26 Agustus 2014

KEJAKSAAN, (KP).- Dengan menggunakan mobil Toyota Kijang Inova nopol D 1239 BH, Senin (25/8/2014) sekitar pukul 10.00 WIB, dua pe­gawai Bulog Bidang Penga­wasan Divisi Regional (Divre) Jabar, Agus Surya, SH, MM, dan Drs. Rizaldi, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Tasik­malaya.
Kedatangan keduanya untuk menjalani pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Penyi­dik Ke­jaksaan Negeri Tasikma­laya yang dipimpin langsung oleh Tris, SH, koordinator Pe­meriksa dari Kejaksaan Tinggi Ban­dung, terkait dugaan penye­le­wengan beras di Gudang Bu­log Tasikmalaya senilai Rp 2,2 mili­ar.
Pemeriksaan yang dilakukan di Ruang Kajari itu berlangsung sekitar 7 jam, dan dengan dise­lingi dua kali waktu istirahat. Pemeriksaan baru berakhir se­ki­tar pukul 17.30 atau menjelang azan Magrib.
Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Ta­sikmalaya, Endy Lazuardy, SH, didampingi salah seorang ang­gota tim, Dr. Eman Sungkawa, SH, MH, seusai pemeriksaan ke­pada “KP” mengatakan, la­ma­nya proses pemeriksaan itu dikarenakan harus menyama­kan dengan bukti-bukti yang ada.
“Kita harus menyamakan dan melakukan pemeriksaan de­ngan barang bukti dari 32 re­kan­an yang ikut memasok beras ke Bulog tersebut. Sebetulnya kedua orang tersebut menjelaskan proses pemasukan dan pencairan beras. Hal itu hanya menguatkan saja, sebab keduanya pun sudah di-BAP, dan tadi kita sempat meminta data pelengkap dari kantor Bulog Ciamis,“ ujarnya.
Lebih jauh Eman Sungkawa menyebutkan bahwa pemeriksaan dan data sudah lengkap, tinggal memanggil tersangka­nya saja, dan itu akan dilakukan pada Senin pekan depan (2/9/­2014). Akan tetapi ketika dita­nya­kan, apakah akan dilakukan penangkapan, Eman tidak menjawabnya.
“Dari pemeriksaan tadi kita sudah bisa menyimpulkan besaran selisih beras yang merupakan besarnya kerugian yang diderita sesuai dengan hasil pemeriksaan di lapangan. Dengan minta bantuan dari Kejari Kara­wang, minggu depan kita akan memanggil tersangkanya, karena yang bersangkutan beralamat di sana,“ ujarnya.
Sebagaimana diberitakan “KP” sebelumnya, Perum Bulog Sub Divre Ciamis Sub Dolog Gudang Mitra Batik dan Mang­kubumi, Kota Tasikmalaya, ha­rus menelan kerugian mencapai kurang lebih Rp 2,2 miliar akibat terjadinya dugaan penye­lewengan pengadaan beras.
Kasus itu terungkap berawal dari laporan dugaan penyele­wengan pengadaan beras. Pe­nyelewengan itu diduga dengan cara membuat laporan fiktip tentang pengadaan beras. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya terungkap, kejadiannya bera­wal sejak pertengahan bulan Ma­ret, dan ditemukan pada bulan Mei 2011.
Saat itu pengadaan beras dila­kukan dengan terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada sejumlah rekanan penga­daan beras. Dan dengan cara itu disinyalir banyak rekanan yang pada kenyataannya tidak me­nye­torkan beras yang dipesan.
Karena tidak sesuai antara uang yang dibayar dengan keberadaan beras yang masuk, ma­ka laporan pun di-”mark-up”.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dirilis kejaksaan, pa­da saat itu kerugian yang diderita Bulog mencapai 312 ton be­ras atau setara dengan Rp 2,2 miliar lebih jika dikalikan harga per kilogramnya Rp 6.450. E-45***