Sabtu, 06 Februari 2016

30 Ton Beras Impor Tersebar di Kota Serang

SERANG – Sebanyak 30 ton dari jumlah total 5.200 ton, stok beras impor asal negara Vietnam yang berada di Gudang Bulog Sub Divre Serang sudah mulai terserap awal tahun ini.

Plt Kepala Bulog Sub Divre Serang Khairullah mengatakan, alasan dikeluarkannya stok instruksi dari Bulog pusat. “Beras impor Vietnam sudah dipakai, terserap mulai awal tahun, dan kita kasih pilih kepada yang mengambil dari pihak kelurahan, mau beras lokal atau impor,” kata Hairullah, Jum’at (5/2/2016).

Hairullah menjelaskan, sebanyak 30 ton tersebut, semuanya tersebar di Kota Serang, karena memang pada awal tahun ini dari tiga daerah baru Kota Serang yang melakukan penyerapan. “Ya kalau stok, di kita (Bulog) aman hingga enam bulan ke depan. Di gudang ada sekitar sembilan ribu ton,” katanya.

Hairullah menambahkan, hingga awal Februari ini, serapan raskin di Kota Serang baru mencapai 19,49 persen dari pagu per tahun raskin Kota Serang sebanyak 3.081 ton. (Fauzan Dardiri)

http://www.radarbanten.co.id/30-ton-beras-impor-tersebar-di-kota-serang/

Usut Potensi Tindak Pidana Pembelian Jagung Ilegal

Sabtu 6 Februari 2016

Sektor pangan hancur akibat ulah pedagang importir yang dibekingi pemerintah. Pembelian jagung impor ilegal tidak cerminkan ekonomi kerakyatan.

JAKARTA. – Aparat penegak hukum, seperti polisi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), diharapkan bertindak proaktif untuk menyelidiki potensi tindak pidana dan kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang oknum pejabat negara dalam kasus pembebasan jagung impor ilegal.

Aparat juga diminta menelisik peralihan kepemilikan jagung impor ilegal dari beberapa importir ke Perum Badan Urusan Logistik (Bulog). Anggota Pokjasus Dewan Ketahanan Pangan, Ahmad Yakub, menilai sikap kementerian pertanian (kementan) yang ngotot melindungi panen petani jagung dari impor pantas mendapat apresiasi.

Sebaliknya, upaya hukum keras meski dikenakan bagi kementerian perdagangan (kemendag) dan Bulog yang justru memfasilitasi, bahkan membeli barang ilegal. “PR kita kan rantai perdagangan pangan yang dikuasai para importir, kenapa kemendag dan Bulog justru menjadi beking mereka?” kata Yakub saat dihubungi, Jumat (5/2).

Dikabarkan, pemerintah memutuskan untuk membebaskan 445 ribu ton jagung impor ilegal yang ditahan di sejumlah pelabuhan itu. Kemudian, kemendag menugaskan Bulog untuk membelinya guna dijual ke peternak yang membutuhkan pakan ternak.

Padahal, kementan sebelumnya mengaku konsisten tidak akan membebaskan jagung impor ilegal yang ditahan tersebut karena bertentangan dengan Permen No 57 Tahun 2015 yang menyebutkan impor jagung pakan ternak harus melalui rekomendasi kementan.

Sebelumnya, Pemerhati pertanian dari Aliansi Petani Indonesia, Ferry Widodo, mengatakan kalau menteri perdagangan memerintahkan Bulog membeli jagung impor ilegal tersebut berarti bisa dikatakan melanggar aturan.

“Keputusan itu berpotensi korupsi, karena membeli barang yang seharusnya tidak dibeli. Bulog juga tidak boleh mengeluarkan uang serupiah pun untuk membeli jagung impor ilegal tersebut. Kalau ada instruksi membeli itu berpotensi korupsi,” kata Ferry.

Menurut Yakub, hancurnya pangan nasional karena pengusaha pangan berwatak pedagang yang hanya mencari untung jangka pendek.

Industri bidang pangan hancur oleh para pedagang importir yang dibekingi aparat pemerintah. Padahal, petani menjadi penanggung risiko terbesar dalam rantai pangan nasional. Kalau produksi surplus harga hancur, kalau gagal panen kerugian mereka tak ada asuransi.

Dan, yang berwenang serta memiliki kekuasaan untuk memperbaiki hal tersebut adalah kemendag dan kementerian BUMN.

Semaksimal apapun kementan bekerja akan percuma kalau pasar dikuasai para importir dan spekulan. “KPPU telah mengumumkan 12 perusahaan internasional dan nasional yg melakukan kartel pangan. Kerja harus dimulai dari menghukum pelaku kartel ini,” kata Yakub.

Merusak Ekonomi

Pengamat ekonomi dari Unair Surabaya, Amalia Rizki, mengatakan pembelian jagung impor ilegal oleh Bulog sama sekali tidak mencerminkan semangat ekonomi kerakyatan. “Barang ilegal yang merusak kehidupan ekonomi petani malah dibeli, pakai uang rakyat pula.

Kita adalah negara yang mayoritas rakyatnya ada di desa, semangat agraris harus dibangkitkan kembali, jadi semestinya anggaran yang ada digunakan untuk itu,” ujar dia.

Amalia menilai kebijakan tersebut hanya menguntungkan segelintir oknum baik itu importir ataupun pejabat terkait. Jargon pemerintahan bersih berwibawa tak ada artinya bila dugaan masyarakat atas praktik semacam ini masih berlaku. YK/SB/ers/

http://www.koran-jakarta.com/usut-potensi-tindak-pidana-pembelian-jagung-ilegal/

Tim TKSK Dinas Sosial Banyuwangi Temukan 4200 Kg Beras Raskin Berkutu

Jumat,5 Februari 2016

KBRN, Banyuwangi : Selama periode bulan Januari 2016 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Dinas Sosial Banyuwangi, menemukan sebanyak 280 sak atau 4200 kilogram beras miskin (raskin) dengan kwalitas jelek.

Beras  dengan kwalitas dibawah standart tersebut ditemukan oleh tim TKSK di 2 kecamatan yakni kecamatan waongsorejo dan kecamatan cluring, dimana berdasarkan temuan yang ada beras yang diterima warga berkutu, mengumpal serta warnanya kekuning - kuningan.

Salah satu koordinator TKSK, Bernard M, Jum’at (05/02/2016) mengatakan, berdasarkan laporan dari tim monitoring TKSK, ada temuan sebanyak 280 sak atau setaran dengan 4200 kg beras, yang dibagikan dalam program beras sejahtera (rastra) dengan kwalitas jelek di 2 kecamatan, yakni kecamatan Cluring dan Wongsorejo.

"bersasarkan monitoring dilapangan, kita temukan 280 sak beras miskin (raskin) kwalitasnya kurang layak," ungkap Bernard.

Dengan temuan tersebut, tim TKSK berupaya mengumpulkan beras - beras masyarakat, untuk dikembalikan lagi kepada Badan Urusan Logistisk, (Bulog) Banyuwangi, untuk diganti, sesuai dengan prosedur yang ada.

"untuk beras di kecamatan Wongsorejo sudah kami kembalikan lagi ke Bulog, namun untuk yang dicluring kita masih menunggu proses pengumpulannya," tambah Bernard.

Dikonfirmasi terpisah kepala Bulog Banyuwangi, Dadang Kosasih mengaku siap mengganti beras - beras yang kwalitasnya jelek, dan dirinya menginstruksikan kepada jajarannya, untuk mengecek terlebh dahulu beras rastra, yang akan dikirimkan ke masyarakat, agar kejadian yang sama tidak terulang.

"kami siap menganti kwalitas beras yang jelek, dengan kwalitas yang bagus," ungkap Dadang.

Sebagai informasi jumlah penerima beras sejahtera (rastra) dikabupaten Banyuwangi Jawa Timur, pada tahun 2016 mencapai 130.596  rumah tangga sasaran miskin (RTSM), dan jumla terbanyak berada dikecamatan Rojojampi dengan jumlah mencapai 8.482 RTSM. (Son/ar3)

http://rri.co.id/jember/post/berita/245241/daerah/tim_tksk_dinas_sosial_banyuwangi_temukan_4200_kg_beras_raskin_berkutu.html

Raskin di Wonogiri Dimakan Gurem

Wonogiri, Harian Solo - Stok beras untuk keluarga miskin di gudang Bulog 307 Sub Divre Surakarta yang terletak di Desa Gedong Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri, dimakan Gurem. Namun demikian Dinas Sosial yang tahun ini memgelola distribusi raskin menampik jika berastersebut dikatakan rusak.

Kepala Dinas Sosial(Dinsos) Wonogiri, Suwartono mengungkapkan pihaknya menemukan gurem pada beberapa karung beras raskin di di gudang Bulog 307 Sub Divre Surakarta yang terletak di Desa Gedong Kecamatan Ngadirojo, kemari Rabu (4/2). Padahal rencannaya beras tersebut akan tanggal 9 Februari dan  23 Februari bulan ini.

‘’Gurem masuk ke dalam karung, bisa jadi karena beras-beras ini sudah tersimpan sejak 8 bulan lalu,” katanya

Padahal beras yang telah disiapkan di gudang tersebut sebanyak empat ribu ton. Namun demikian Suwartono menampik jika beras tersebut dikatakan rusak. Menurutnya kualitas beras hanya turun sedikit. Selain itu pihhaknya menjamin raskin yang tersimpan di gudang tersebut masih layak untuk dikonsumsi. “Indikator tidak layak itu jika beras rusak dan ada kutunya," jelasnya.

Kendati demikian, Suwartono menyarankan agar warga masyarakat penerima sasaran manfaat(RTSM) yang mendapat beras miskin dalam kondisi tidak layak, disarankan untuk segera melaporkan kepada petugas yang membagikan.  Laporan tersebut nantinya untuk diteruskan ke tingkat kecamatan lantas ke kabupaten agar segera di ganti unt. "Dalam tempo 2x24 jam kami akan ganti, jika beras yang diterima tidak layak konsumsi" tandasnya. Arief Setiyanto

Sugeng Riyanto Kepala Gudang Bulog 307 Sub Divre Surakarta,Ngadirojo Wonogiri, ketika dimintai tanggapan berkait dengan gurem yang ada di dalam karung beras, menjelaskan bahwa gurem-gurem tersebut tidak mengganggu kualitas beras. "Gurem-gurem itu hanya memakan kulit ari beras saja.  Yang berbahaya itu bila kemasukan Rezoperta atau kutu pemakan beras, karena kondisi beras bisa remuk,"katanya. (Red-HS99/AS).

http://www.hariansolo.com/2016/02/raskin-di-wonogiri-dimakan-gurem.html

Dugaan Penyimpangan Perum Bulog Rugikan Keuangan Negara Rp. 13,1 Milyar

Jakarta. Binpers – Lagi-lagi pihak auditorat BPK RI menemukan Beras Turun Mutu Pada Dine Sumatera Utara dan Aceh Disalurkan Kepada 56.209 RTS-PM Sebanyak 1.278.553,68 kg, Belum diperbaiki Mutunya Sebanyak 10.209.208,71 kg Senilai Rp 81.210.069.512,48 dan Susut atas Perbaikan Mutu Beras Sebanyak 1.649.538,87 kg Senilai Rp I3.121.405.399,91.

Menurut pihak BPK RI, dalam program Raskin, Perum BULOG memiliki peran penling dalam hal pengadaan, penyimpanan, perawatan, dan penyal uran beras sampai ke titik distribusi. Penyaluran Beras Perum BULOG merupakan kegiatan penjua lan beras perusahaan kepada pihak lain berdasarkan penugasan Pemerintah dan/atau atas dasar kontraklperjanjian jual beli dengan Kelembagaan PemerintahINon Pemerintah serta pclayanan kebutuhan internal perusahaan . Perum BULOG dituntut untuk menyalurkan beras sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan dan untuk menjamin kualitas dan kuantitas yang baik, diperl ukan mekanisme pengelolaan stok yang baik.

Berdasarkan hasil pemeriksaan secara uji petik atas pengelolaan persed iaan di lima divre diketahui lerdapat heras turun mutu yang disalurkan kepada rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM) sebanyak 1.278.553,68 kg seni lai Rp I 0.170.370.317,39 (1.278.553 ,68 kg x Rp7.954,59). Selain itu heras turun muto yang belum di lakukan perbaikan sebanyak 10.209.208,71 kg senilai Rp81.2 10.069.5 12,48 (10.209.208,71 kg x Rp7.954,59) dan heras SUSUI atas perbaikan mutu sebanyak 1.649.538,87 kg senilai Rp I3. 121.405.399,91 (1.649.538,87 kg x Rp7.954,59),

BPK RI menguraikan bahwa Beras Turun Mutu pada Tiga Subdivre dan Satu Kansilog sebanyak 1.278.553,68 kg Disa lurkan kepada 56.209 RTS-PM Berdasarkan Pemeriksaan atas penyaluran heras diketahui heras yang turun mutu pada liga subdivre dan satu kan si log sebanyak 1.278.553,68 kg disa lurkan kepada 56.209 Subdivre Medan sebanyak 221.250 kg Pada bulan Desember 2014, GBB Mustafa pada Divre Sumatera Utara menerima Movement Nasional (Movenas) beras eks ADA ON Jarim Km. Tanto Star tahun 2014 dari Divre Jawa Timur sebanyak 371.250 kg.

Berdasarkan Laporan Kepala Divre Sumatera Utara Kepada Direktur Pelayanan Publik cq. Kadiv Diawat tanggal 6 Januari 2015 diketahui Kondisi Kualilas Beras tersebut pada periode 29 Desember 2014 s.d 03 Januari 2015 dinyatakan Baik. Namun demikian sesuai Laporan Kondisi Kualitas tan ggal 16 Februari 201 5 diketahui Kondi si Kualitas Beras ADA ON Jatim KM.  Tanto Star pada periode 9 Februari s.d 14 Februari 201 5 di nyatakan Turun Mutu sebanyak 22 1.250 kg.

Selanjutnya sesuai Laporan Kondi si Kualitas langgal 24 Februari 201 5 diketahui beras eks ADA ON Jatim Km. Tanto Star yang rusak tersebul ternyata pada periode 16 Februari s.d 2 1 Februari 201 5 disalurkan kepada 14.750 RTS-PM sebanyak 22 1.250 kg. Dengan demikian sisa beras eks ADA ON Jatim KM.  Tanto Star per 21 Februari 2015 telah nihi l. Rincian penyaluran beras eks ADA DN Jalim KM. Tanto Star sebanyak 22 1.25 0 kg Subdivre Kutacane Pada bulan Maret sampai dengan Agustus 201 4, Gudang GSP Lawe Rakat, Sentang dan Tanah Merah pada Subd ivre Kulacane menerima Movenas beras eks ADA ON tahun 2013 dari Jawa Timur masing-masing sebanyak 1.000.000,00 kg.

Berdasarkan Laporan PQC diketahui kondi si beras eks ADA ON tahun 2013 dari Jawa Timur tersebut pada periode 10 Desernber s.d 16 Oesernber 20 14 mengalami turun mutu sebanyak 666.282,18 kg. Namun demikian hingga bulan Maret 201 5 ternyata beras eks tahun 201 3 dari Jawa Timur yang turun mutu tersebut disalurkan untuk OPK, OPM, Raskin, dan Karyawan sebanyak 650.473,68 kg, sedangkan sisanya sebanyak 15.808,50 kg masih di Gudang Lawe Rakat.

Subdivre Sigli. Pada bulan Maret s.d Agustus 2014, gudang GBB Dayah Timu Subdivre Sigli menerima Movnas beras eks ADA DN tahun 2013 dari Jawa Timur sebanyak 2.000.000,00 kg. Berdasarkan Laporan PQC diketahui kondisi beras eks ADA DN tahun 2013 dari Jawa Timur tersebut pada periode 10 Desember s.d 16 Desember 2014 mengaiami turun mutu sebanyak 100.750,00 kg. Namun demikian hingga bulan Maret 2015 ternyata beras eks tahun 2013 dari Jawa Timur yang tUnIn mutu tersebut di sa lurkan untuk OPM, beras karyawan dan penyaluran Raskin 2015 sebanyak 90.880,00 kg.

Kansilog Takengon, Pada bulan April s.d September 2014, Kansilog Takengon menerima Movnas beras eks ADA DN Jatim tahun 2013 dari Jawa Timur sebanyak 2.500.000,00 kg. Berdasarkan Laporan PQC diketahui kondisi beras eks ADA DN Jatirn tahun 2013 dari Jawa Timur tersebut pada periode 10 s.d 16 Desember 20 14 dinyatakan lurun mutu sebanyak 389.959,31 kg. Namun demikian, pada bulan Desember 2014 beras eks tahun 2013 dari Jawa Timur yang turun mutu tersebut temyata disalurkan untuk OPK CBP kepada 26.508 RTS-PM sebanyak 389.850,00 kg.

Tim BPK telah melakukan pemeriksaan fi sik beras pada bulan Desember 2014 atas tumpukan (stapel) 003 di GBB Pulo Brayan Darat II diketahui terdapat beras turun mutu sebanyak 1.820.498,71 kg.  Beras tersebut merupakan hasil movenas dengan Laklog No.074/04120 14 bulan april 2014 eks ADA ON JATIM KM Strait Mas tahun 2014 dari Jawa Timur. Kondisi beras tersebut terserang hama rhyzoperlha, beras sudah berdebu (bubuk), patahan hems cukup banyak, karung berlubang dan kadar air bems antara \3,7% sampai dengan 14,2%. Namun demikian, sesuai Laporan PQC Divre Sumatera Utara tanggal 15 Desember 210 14 diketahui bems eks ADA ON JATIM KM Strait Mas tahun 2014 dad Jawa Timur tersebut dinyatakan kualitasnya baik.

Selanjutnya Tim BPK melakukan pemeriksaan fi sik tangga! 19 Maret 2015 diketahui beras eks ADA ON JA TIM KM Strait Mas tahun 2014 yang turun mutu tersebut ternyata belum dilakukan perbaikan kualitasnya. Dilain pihak sesuai laporan PQC Divre Sumalera Utara tanggal 11 Maret 2015 dinyatakan kualitas beras adalah cukup. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK RI, PQC melakukan pengujian kualitas beras tanggal 20 Maret 2015.

Sesuai Laporan uji kualitas langgal 20 Maret 2015 diketahui beras eks ADA ON JATIM KM Strait Mas tahun 2014 yang berada di GBB Pulo Bryan Darat II unit C tumpukan 003 mengalami turun mutu sebanyak 1.820.498,71 kg. Dengan demikian sampai dengan pemeriksaan Tim BPK tanggal 19 Maret 2015 temyata Subdivre Medan tidak melakukan tindakan perbaikan atas beras yang telah rusak. Rincian hasil uji PQC Divre Sumatera Utara atas heras yang rusak  Subdivre Bojonegoro, Sesuai Laporan Kondisi Kualitas Beras pada GBB Wire Subdivre Bojonegoro tanggal 17 Februari 2015 diketahui beras turun mutu periode 9 s.d 13 Februari 2015 sebanyak 8.388.710,00. Jumlah beras turun mutu tersebut meningkat sebanyak 1.649.320,00 dari yang dilaporkan langgal 23 Deselllber 2014 sebanyak 6.739.390,00 kg. Namun sampai dengan pemeriksaan fisik pada 13 Maret 2015 temyata beras yang turun mutu tersebut belum dilakukan perbaikan mutu, Terkait permasalahan tersebut, Kadivre/Kasubdivre melakukan uji coba pengolahan dengan tujuan untuk menganalisis metode alternatif yang efektif dan efisien dalam perbaikan kualitas, namun hal tersebut tidak segera dilakukan, Hal ini terbukti sejak beras diketahui turun mutu pada bulan Desember 2014, namun hingga bulan Maret 2015 beras tersebut tidak dilakukan perbaikan mutu.

Pemeriksaan lebih lanjut terhadap Laporan Pos isi Persediaan Fisik Bulanan pada GBB Wire pada Tahun 2014, menunjukkan hal-hal diantaranya Pengelo laan stok beras di GBB Wire tidak sepenuhnya menerapkan prinsip FIFO. Hal ini terbukti beras yang masuk tanggal 29 Januari 2014 temyata langsung disalurkan pada bu lan yang sama, yaitu bulan Januari 20 14. Oilain pihak, pada waktu yang sarna terdapat beras yang lebih dahulu masuk antara 50 s.d 146 hari, ternyata tidak disalurkan.

Alas pennasalahan tersebut Kepala Gudang GBB Wire tidak dapat rnenunjukkan dokumentasi dan pertimbangan terkait tidak di laksanakan prinsip FIFO dalam pengelolaan persediaan. Penyaluran beras yang menyimpang dari prins ip FIFO mengakibatkan adanya stok raskin dengan masa simpan lama sehingga kualitasnya cenderung semakin menurun dan rentan terhadap serangan hama.

Selain itu Pelaksanaan Fumigasi dan Spraying yang dilakukan UB-Jastasma Divre Jawa Timur belum berjalan efektif. Hal ini terbukti pada bulan Februari, Maret, Mei, Juli, September, November, dan Desember 2014 Perum BULOG te lah melakukan fumigasi dan spraying. Namun berdasarkan Laporan Mingguan Kualitas Beras dan Monitoring Tingkat Serangan Hama pada bulan tersebut ternyata masih terdapat serangan hama berupa Sytophilus. Oryzapi/us. Psocyd, Tribolium, dan Ryzoperla Dominica dengan tingkat serangan hama ringan dan sedang.

Selanjutnya berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Keputusan Direksi Perum BULOG No/KD-21IDS200/01 /2005 tentang Pedoman Perbaikan Kualitas dan Penyelesaian Beras Turun Mutu/Rusak diketahui keputusan direksi tersebut tidak mengatur jangka waktu dimulainya kegiatan perbaikan kualitas sejak diketahui adanya beras yang mengalami turun mutu.

Selanjutnya, susut atas Perbaikan Mulu Beras pada Lima Divre Sebanyak 1.649.538,87 kg Senilai Rp 13.121.429.900,05 Berdasarkan Rekap Laporan Persediaan Operasional Gabah/Beras (PSO) Seluruh Indonesia Tahun 2014 diketahui terdapat pengeluaran beras turun mutu untuk dilakukan perbaikan mulu sebanyak 71.015.943,61 kg. Darijumlah tersebut diperoleh hasil beras sesuai standar sebanyak 68.708.013,15 kg, sedangkan sisanya sebanyak 2.307.930,46 kg merupakan susu! proses perbaikan mUlu. Lebih lanjut diketahui beras yang turun mutu yang terjadi pada lima divre sampl ing adalah sebesar 1.649.538,87 kg yang berasal dari pengadaan empat divre.

Hasil pemeri ksaan secara uji pelik pada Divre OKI Jakarta Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sumatera Utara diketahui bahwa pada tahun 2014 kelima divre lersebul melakukan perbaikan kualilas alas beras turun mutu sebanyak 29.657.205,95 kg.

Dari jumlah tersebut diperoleh hasil beras sesuai standar sebanyak 28.007.667,08 kg, sedangkan s isanya sebanyak \.649.538,87 kg merupakan susut beras karena reproses. Lebih lal~ut diketahui bahwa dari susu! reproses sebanyak 1.649.538,87 kg tersebul diantaranya sebanyak 651.543,87 kg atau 39,50% merupakan beras hasil movenas eks ADA DN dari Jawa Timur. Untuk sisanya sebanyak 37.948,00 kg atau 2,30% merupakan hasil sweeping dan perawatan tidak efektif serta sebanyak 960.047,00 kg alau 58,20% prosedur pengelolaan persediaan secara FIFO tidak sepenuhnya dijalankan.

Hal tersebut mengakibatkan Masyarakat penerima manfaat raskin mempunyai resiko gangguan kesehatan dan dapat menguran gi kepercayaan masyarakat terhadap kua litas beras raskin dari Perum BULOG, selain itu juga Polensi susut beras dari beras turun mutu yang lidak segera ditindak lanjuli sebanyak 10.209.208,71 kg di Subdivre Medan dan Bojonegoro dan Indikasi kerugian Perum BULOG maksimal sebanyak 1.649.53 8,87 kg atau sebesar Rp 13.12 1.405.399,91 (\.649.538,87 kg x harga pokok beras yang dikuasai (audited) sebesar Rp7.954,59) atas hasil susut beras reproses pada lima divre.(daeng)

http://binpers.com/2016/02/dugaan-penyimpangan-perum-bulog-rugikan-keuangan-negara-rp-131-milyar/

Jumat, 05 Februari 2016

Kutu Dalam Beras

Jumat, 05 Februari 2016

Lindungi Rakyat Tani NTB

DAHULU Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal karena suburnya lahan pertanian dan melimpahnya hasil produksi Rakyat Tani, terutama beras. Karena itu, maka tak salah jika sejak lama NTB ditetapkan pemerintah pusat sebagai daerah lumbung pangan nasional yang memasok kebutuhan beras bagi sebagian kawasan Indonesia timur, bahkan Pulau Jawa.

Hidup diatas lahan yang subur dengan hasil produksi yang melimpah, mestinya mampu membuat Rakyat Tani NTB sejahtera. Tapi apa mau dikata? Faktanya, daerah yang dahulu dikenal dengan sebutan Gogo Rancah, Bumi Gora dan berbagai istilah kebanggaan itu, kini tengah menangis karena mengalami krisis pangan (beras-red) yang sudah masuk kategori membahayakan.

Keadaan ini tentu saja membuat publik bingung. Bagaimana mungkin daerah lumbung pangan nasional bisa mengalami krisis beras? Adakah yang salah dengan manajemen pengelolaan pertanian dan perberasan di NTB?

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyuguhkan data, bahwa produksi padi pada tahun 2015 mengalami surplus hingga 2,3 juta ton dari target sebanyak 2,1 juta ton. Jika benar terjadi surplus produksi, lalu kenapa bisa terjadi krisis?

Usut punya usut, krisis pangan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari amburadulnya kinerja pengadaan beras pada Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTB. Ya, pada musim panen raya tahun 2015, Bulog Divre NTB hanya mampu memenuhi sekitar 60 persen dari total target pengadaan Public Service Obligation (PSO). Hal sama juga terjadi pada pembelian gabah dalam program Upaya Khusus (Upsus) yang hanya sekitar 60 persen dari target sebanyak 100 ribu ton.

Alhasil, stok beras yang terdapat di gudang Bulog NTB di akhir 2015 hanya tersisa 9.000 ton, dan pada awal Februari 2016 ini tinggal tersisa 2.000 ton saja, karena 7.000 ton disalurkan untuk kebutuhan Beras Pra Sejahtera (Rasta). Dalam hal ini, tidaklah berlebihan jika publik beranggapan, bahwa amburadulnya kinerja pengadaan beras Bulog NTB menjadi biang keladi krisis yang terjadi.

Benarkah rendahnya kualitas beras produksi Rayat Tani lokal yang membuat Bulog NTB tidak mampu memenuhi target pengadaan? Pertanyaan itu tentu saja harus dijawab dengan nurani, bukan dengan akrobatik angka yang kerap menyesatkan. Jika memang kualitas yang menjadi alasan, lalu kenapa Bulog Jatim bisa membeli lebih dari target pengadaan? Apakah semua beras yang dibeli itu memenuhi standar Inpres Perberasan? Tentu tidak, karena beras yang dikirim Bulog Jatim ke sejumlah daerah banyak ditemukan tidak sesuai standar mutu, baik derajat sosoh, butir patah, maupun menir-nya.

Lalu apa sebenarnya yang membuat Bulog NTB tidak sanggup memenuhi target pengadaan beras di tahun 2015? Persoalannya ada pada cara berpikir para pejabat di Bulog Divre NTB dan jajaran. Jika memang berniat mendukung program peningkatan kesejahteraan Rakyat Tani, tentu alasan klasik tidak akan digunakan untuk mendukung logika terbalik.

Kemudian apa yang terjadi di daerah subur dengan hasil pertanian yang melimpah (NTB-red) saat ini? Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melansir, meningkatnya angka kemiskinan di NTB lebih disebabkan karena harga beras yang melambung tinggi hingga mencapai Rp12 ribu/Kg. Bukankah ini akibat dari ketidakpahaman pemerintah (Perum Bulog) dalam memaknai arti negeri Gemah ripah loh jinawi yang sesungghnya?

Miris memang, tapi itulah fakta yang harus dihadapi Rakyat Tani NTB saat ini. Pasar mereka akan segera dirampas paksa oleh Perum Bulog dengan memasukkan Beras Rasta sebanyak 7.000 ton dari Jatim.

Tidak ada yang salah dengan program suplai beras dari daerah surplus ke daerah yang minim produksi (Movenas). Tapi ketika beras dari daerah lain disuplai ke daerah yang selama ini menjadi lumbung pangan nasional, terlebih disaat produksi beras Rakyat Tani lokal melimpah, maka itu yang tidak bisa diterima akal sehat.

Mendapati fakta yang mencengangkan ini, tentu saja membuat publik bertanya- tanya, “ada apa dibalik tidak tercapainya target pengadaan beras Perum Bulog Divre NTB? Benarkah ada pemufakatan jahat dari sekelompok oknum yang hendak merampas pasar Rakyat Tani lokal?  Ataukah ini ada kaitannya dengan “program” impor beras besar-besaran di tahun 2015 dan 2016? Dan adakah kaitannya semua persoalan ini dengan jaringan mafia yang salama ini menjadi kutu bagi beras produksi Rakyat Tani lokal?”

Apapun dalihnya, yang pasti, publik mendesak Presiden dan Meneg BUMN segera mencopot semua pejabat Perum Bulog yang menyebabkan kelangkaan pangan di NTB. Sebab jika tidak, maka bukan tidak mungkin Presiden dan jajaran terkait akan dianggap sebagai pihak yang hendak memiskinkan Rakyat Tani NTB. Rakyat Tani lokal harus dilindungi dari “pemufakatan jahat” semua pihak yang hendak memiskinkan dan merampas pasar mereka secara pelan tapi pasti. ***

Oleh: Danil’s
Penulis adalah: Koordinator Barisan Rakyat Anti Korupsi (Barak), dan Pemred Barak Online Group

http://beritabarak.blogspot.co.id/2016/02/kutu-dalam-beras.html#more

Kamis, 04 Februari 2016

Kualitas Beras Bulog Masih Buruk

Kamis, 4 Februari 2016

BOYOLALI – Beras untuk keluarga miskin (Raskin) atau yang saat ini populer dengan sebutan beras untuk keluarga sejahtera (Rasta) pada 2016 periode pertama mulai distribusikan. Namun masih saja beras yang dibagikan kepada rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM) ini kualitasnya buruk.

Padahal seharusnya kualitas beras yang didistribusikan harus sesuai dengan peraturan Presiden (Perpres) bukan beras yang ada di pasaran umum. “Ini berasnya masih sama saja (seperti tahun kemari,Red). Berasnya masih kuning-kuning, dan kusut, tak seperti beras yang layak konsumsi pada umumnya,” ungkap salah seorang RTSPM, Desa Canden, Suradi, kemarin.

Dia mengungkapkan sebelumnya telah mengadukan keluhannya ke Pemerintah Desa (Pemdes) mengenai beras Raskin. Namun tetap saja beras yang dibagikan tak layak dikonsumsi masyarakat. “Tidak tahu bagaimana tanggapannya. Tapi yang jelas kami menerima lagi beras dengan kondisi seperti sebelumnya,” jelasnya.

Salah seorang Kepala Dusun, Desa Canden, Jamburi mengatakan, pernah sekali mengembalikan beras Bulog yang telah didistribusikan kepada masyarakat karena buruknya kualitas beras. Sehingga beras tersebut dikembalikan dengan meminta beras pengganti kepada Bulog. Tetapi saat ini tak ada perubahan dari penyedia beras untuk Rasta, sehingga akan merepotkan pemdes jika harus bolak-balik menukarkan beras Rasta.

Sejauh ini, sebanyak 351 RTSPM yang setiap bulannya mendapat jatah Rasta, memang tak ada masalah mengenai pembagiannya. Tetapi dia selalu mendengar adanya keluhan dari masyarakat mengenai kualitas Rasta. “Ya mau bagaimana lagi? Memang kondisinya juga seperti ini adanya,”
terangnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda, Boyolali, Dirham, mengklaim kualitas Rasta dari Bulog tahun ini sudah baik. Beras yang didistribusikan kepada masyarakat dari Bulog melalui desa sudah ada perubahan yang cukup signifikan. Sehingga beras yang dibagikan kepada masyarakat dinilai layak dikonsumsi.

“Karena beras standar Rasta adalah beras medium. Yang tentunya sudah ada aturannya sendiri mengenai beras yang dibagi-bagikan setiap bulan tersebut,” jelas Dirham.

Menurut Dirham kalau ditemukan Rasta dengan kualitas buruk, maka RTSPM dapat menukarkan Rasta tersebut langsung ke Bulog  Divisi Regional/Divre Bulog Jawa Tengah. Tetapi juga harus memberitahukan penukaran tersebut ke bagian Perekonomian Setda Boyolali. “Misal satu RT buruk semua, jumlah berasnya berapa karung saya diberitahu. Nanti saya langsung menghubungi Divre Bulog yang bersangkutan,” kata Dirham.

Tahun ini jatah Rasta masih sama dengan kuota 2015, yaitu sebesar 15 kilogram (Kg). Yang akan dibagikan kepada  64.166 RTSPM yang tersebar di 19 wilayah kecamatan. Dengan jumlah total mencapai 1.924.980 kilogram.

Ditambahkan Dirham, harga tebus Raskin masih sama dengan Raskin reguler yakni  Rp 1.600 per kilogram dan setiap RTSPM berhak menerima 15 kilogram Raskin. “Mekanismenya sama tak boleh ditukarkan, atau dijual kembali,” tandas Dirham. (wid/edy)

http://radarsolo.co.id/2016/02/04/kualitas-beras-bulog-masih-buruk/