Jumat, 03 Juli 2015

Hasil Uji Lab, Beras Bulog Tidak Sesuai Standar

Jumat, 03 Juli 2015

blokBojonegoro.com - Hasil Lab PT Angler Bio Chem menyatakan pengujian sampel raskin tidak sesuai standar. Meliputi butir padi pecah, menir beras rusak dan kadar air rendah. Seharusnya Bulog Sub-Divre III menolak beras dari mitra kerja yang tidak memenuhi standar kualitas.

Hal ini terutama menyangkut kadar butir patah (broken) yakni, maksimal 20 persen tiap karung kemasan 15 kilogram. Kemudian soal kadar air, dan menir dibawah parameter uji. Dalam kasus ini bisa saja terjadi faktor kesengajaan petugas gudang tidak melakukan pengecekan dan pengambilan sampel sebelum beras diturunkan dari truk untuk dibawa masuk ke dalam gudang penyimpanan.

Kapolres Bojonegoro, AKBP Hendri Fiuser menegaskan hal tersebut diperoleh berdasarkan hasil laborat. Karena itu, lanjut dia, apakah Bulog dan rekanannya sudah menyortir kualitas beras dari para mitra kerjanya yang sudah memenuhi kontrak. Karena itu, masalah ini masih dalam penyelidikan aparat.

"Sebagai penyedia kebutuhan pangan dengan beras berkualitas abal-abal sangat merugikan masyarakat. Makanya pelaku dapat disangkakan dengan Undang-Undang Pangan," tegas Kapolres.

Setelah beras dari mitra kerja masuk dalam gudang penyimpanan, paling maksimal dalam waktu satu tahun harus sudah didistribusikan. Dikarenakan penyimpanan beras di gudang tidak boleh lebih dari satu tahun.

Dengan demikian, para mitra kerja pengadaan yang sudah melakukan kontrak harus merealisasikan kontraknya, benar-benar menjaga kualitas. "Nah, disini siapa yang mengabaikan, sehingga resikonya beras berkutu," lanjutnya.

Sepertinya dalam kasus ini ada oknum yang diduga meloloskan beras dengan kualitasnya di bawah standar. Padahal beras seperti itu harusnya ditolak untuk diproses ulang. Meski demikian, sampai sekarang Kapolres enggan menyebut siapa calon tersangka dalam kasus ini. Sebaliknya, pihak Bulog juga enggan dimintai keterangan mengenai masalah ini.[oel/mu]

http://blokbojonegoro.com/read/article/20150703/hasil-uji-lab-beras-bulog-tidak-sesuai-standar.html

Kamis, 02 Juli 2015

Mensos Minta Kualitas Raskin Lebih Bagus

Kamis, 02 Juli 2015

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pemerintah tetap akan menyalurkan beras bagi warga miskin (raskin) seperti sebelumnya.

"Masih seperti dulu, tapi saya berharap di bawah manajemen Bulog yang baru, kualitas raskin lebih bagus," kata Mensos, Kamis.

Untuk pendistribusian raskin, Mensos juga mengharapkan komitmen pemerintah daerah agar penyalurannya berjalan lancar sampai ke rumah Tangga sasaran.

Mensos sebelumnya mengatakan, hingga Juni 2015 distribusi beras bagi warga miskin (raskin) baru 22,76 persen, jauh dari target yang ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas menegaskan perlu perbaikan dan penyempurnaan penyelenggaraan pembagian beras untuk rakyat miskin (raskin).

Dalam rapat, Presiden meminta untuk memastikan pembagian raskin diterima pada yang berhak dan beras yang dibagikan layak untuk dikonsumsi.

Presiden menegaskan program raskin adalah bagian dari program sosial masyarakat ini perlu ada perbaikan, terutama data penerima raskin.

"Saya banyak mendapat laporan soal raskin ini, baik pagu tidak mencukupi, masih ada yang perlu diperbaiki. Jangan ada data penerima raskin yang tidak sinkron, sehingga mempengaruhi distribusi penyaluran," jelasnya.

Untuk itu, Presiden kembali menegaskan harus ada perbaikan sehingga tidak ada lagi keterlambatan pembagian raskin di masa mendatang.

"Keterlambatan penyaluran raskin, ini yang dialami daerah tertentu, mungkin ksrena geografis atau kondisi jalan, tapi ini harus diperbaiki," katanya.

Presiden juga menyebut ada beberapa temuan salah sasaran penerima raskin harus segera diperbaiki juga.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/07/02/nquhlo-mensos-minta-kualitas-raskin-lebih-bagus

Raskin Dijual RP 5 Ribu Per Kg

Rabu, 1 Juli 2015
 
SUMENEP, koranmadura.com – Penerima manfaat bantuan beras untuk warga miskin (raskin) di Desa Brakas, Kecamatan/Pulau Raas, ditengarai menjual raskin seharga Rp 5000 per kilogramnya. Raskin yang diterima langsung dijual ke pasar karena tidak layak konsumsi.

“Setelah warga menerima raskin, mereka langsung menjualnya ke pasar dengan harga Rp 5000 per kilogram,” ungkap tokoh masyarakat Desa Tonduk, Kacamatan/Pulau Raas, Busyanto, Selasa (30/6).

Uang hasil penjualan beras medium tersebut dibelikan beras premium. “Setelah dijual ke salah satu pedagang, warga membeli beras jenis premium dengan harga yang lebih mahal, seperti beras merk Ikan Paus,” terangnya.

Kabag Perekonomian Setkab Sumenep Moh. Hanafi belum bisa memberikan keterangan pers karena mengaku belum mengetahui kebenarannya. “Kami masih belum dapat laporan, baik dari penerima maupun dari tokoh masyarakat setempat,” katanya.

Namun, mantan Camat Lenteng itu menyayangkan beredarnya dugaan tersebut. Jika alasan warga menjual karena kualitas raskin jelek, lebih baik jangan diterima dan dikembalikan kepada Bulog untuk diganti dengan yang lebih bagus.

“Kami telah koordinasi dengan Bulog. Bulog siap mengganti jika ada permasalahan, seperti kualitas dan berat takaran tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah,” terangnya, kemarin.

Kepala Bulog Sumenep Ainul Fatah mengatakan siap untuk menganti apabila beras yang diterima warga tidak sesuai ketentuan. “Silakan kembalikan saja ke Bulog. Kami pasti akan segera menggantinya,” ujarnya.

Namun, jangan menuntut pengganti dengan kualitas sama yang biasa dijual di pasaran. Sebab, beras Bulog beras jenis medium sedangkan di pasaran jenis beras premium. “Harganya pun juga lebih murah, hanya Rp 7300 per kilogramnya. Kalau beras premium kan harganya belasan ribu per kilogramnya,” tukasnya.

Untuk diketahui, penebusan raskin sejak bulan Januari hingga Mei 2015 hanya 7.744.650 ton dari yang mestinya sudah mencapai 8.728.350 dengan kuota setiap bulannya sebanyak 1.745.670 ton. Rinciannya, bulan Januari hanya terealisasi 1.001.265 ton, Februari 784.380 ton, Maret 481.665 ton, April 283.890 ton, dan Mei 145.950 ton.

(JUNAEDI/MK)

http://www.koranmadura.com/2015/07/01/raskin-dijual-rp-5-ribu-per-kg/

Tidak Rela Rakyat Indonesia Dapat Raskin Berkutu, Prof Maksum: Perbaiki Tata Kelola Pangan!

Rabu, 01 Juli 2015


RMOL. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tidak rela rakyat Indonesia menerima beras miskin (raskin) yang tidak layak dikonsumsi.

Demikian disampaikan Ketua PBNU bidang perekonomian Prof KH Maksum Mahfudz saat dalam Seminar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk “Menyoal Ekonomi Kerakyatan dan Kedaulatan Pangan di era Jokowi” di lantai 5 Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, Rabu (1/7).
   
"Ada nggak tetangga kita yang terima raskin, nggak ada. Justru yang diterima itu rasnguk (beras penguk) dan berkutu. Itu yang mereka terima,” tandasnya.

Karena raskin tidak dimakan, lanjutnya, dampaknya beras naik. Akhirnya terjadi inflasi. "Dan ini dampaknya luar biasa. Kita tahu, kontribusi beras dalam pangan 20 persen. Janganlah petani diinjak-injak terus," tegasnya.

Ia berharap, pemerintah merombak tata kelola pangan. Ia mengutip kaidah Fiqih, tasharruf al-imam ala al’-raiyyah manuthun bi al-mashlahah. (Kebijakan pemerintah atas rakyatnya didasarkan pada aspek kemaslahatan).

"Pemerintah saya harap melakukan perombakan atas tata kelola pangan," pungkasnya. [arp]


Rabu, 01 Juli 2015

Hasil Lab Raskin Tidak Layak Sudah Turun

Selasa, 30 Juni 2015  

SuaraBojonegoro - Hasil uji lab dari Surabaya terkait beras raskin tidak layak konsumsi yang diterima warga Desa Jumok Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro sudah berada dikantong Polres Bojonegoro. Selasa (30/6/15)

Kapolres Bojonegoro AKBP Hendri Fiuser mengatakan jika hasil lab benar sudah ditangan Polres Bojonegoro namun pihaknya akan mendatangkan ahli pembaca hasil lab dari Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro.

"Karena bahasa dari hasil lab kita tidak mengetahui jadi kita akan datangkan orang dari Disperta untuk membaca hasil lab tersebut," ungkap AKBP Hendri Fiuser.

Hendri juga belum memastikan siapa calon tersangka dalam kasus raskin tidak layak konsumsi ini karena pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut mulai dari kesalahan ada dimana karena mekanisme penyaluran raskin sudah ada setelah itu baru bisa mengetahui siapa yang menabrak mekanisme yang ada.

"Kita juga akan menyelidiki siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas mekanisme yang dilanggar," ungkapnya.

Lanjut Hendri, dalam kasus ini indikasi hukum yang telah dilanggar yaitu Pasal Undang-undang (UU) Pangan, Undang-undang Kesehatan dan Undang-undang (UU) perlindungan konsumen. (Ney)

http://www.suarabojonegoro.com/2015/06/hasil-lab-raskin-tidak-layak-sudah-turun.html

Sahbandar Kalianget Gagalkan Pengiriman 43 Ton Raskin Tanpa DO

Rabu,1 Juli 2015

SURYA.co.id | SUMENEP – Petugas Sahbandar Kalianget Sumenep berhasil menggagalkan upaya pengiriman 43 ton bantuan beras untuk orang miskin (raskin), tanpa dokumen operasional (DO) resmi yang akan dikirim ke Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, Selasa (30/6/2015).
Ratusan sak raskin yang hendak dikirim ke kepulauan diangkut perahu layar motor (PLM) Laksana yang dinakhodai Muhni (37) warga Pulau Kangean. PLM Laksana sudah sandar di pelabuhan Kalianget Sumenep sejak hari Minggu.
" Terpaksa kami cekal dan surat izin berlayar tidak kami keluarkan, karena perahu dengan penuh muatan raskin itu tidak dilengkapi dokumen sah pengiriman raskin," ujar Taufik, petugas Sahbandar Kalianget, Selasa (30/6/2015).
Dikatakan, sesuai aturan persyaratan angkutan atau pengiriman raskin ke kepulauan harus memenuhi syarat yang diatur dalam petunjuk pelaksanaan petunjuk teknis pengirim raskin.
Salah satunya harus ada pemberitahuan terlebih dahulu ke petugas Sahbandar dan dalam pengawalan polisi.
"Yang harus wajib dimiliki adalah ada dokumen operasional ( DO ) pengeluaran raskin dari gudang Bulog serta juga tidak diketahui raskin desa yang dituju termasuk nama-nama calon penerima manfaatnya. Nah, yang ini aneh, tidak ada sama sekali, makanya kami cekal," tegas petugas asal Pulau Sepudi ini.
Karenanya, Sahbandar akan tetap tidak akan memberikan izin berlayar sampai semua dokumen yang dibutuhkan lengkap dan persayaratan lain terpenuhi."Penuhi dulu kelengkapan dokumennya, baru kami keluarkan izin berlayarnya," pungkasnya.
Kasatpolair Polres Sumenep AKP Muhardi membenarkan pencekalan keberangkatan PLM Laksana, namun yang bersangkutan mengkau tidak berani menanggapi lebih lanjut karena dinilai sudah bukan kewenangannya, mengingat sudah ditangani Sahbandar.
"Mohon maaf saya tidak bisa mengomentari hal itu lebih lanjut, dan sudah ditangani sahbandar," elak Muhardi.
Sampai saat ini 43 ton bantuan beras untuk orang miskin (raskin) itu masih di Pelabuhan Kalianget.

http://surabaya.tribunnews.com/2015/06/30/sahbandar-kalianget-gagalkan-pengiriman-43-ton-raskin-tanpa-do

Tiga Tahun, Warga Miskin ini Hanya Terima 10 Kali Jatah Raskin

RABU, 01 JULI 2015

TEMPO.CO , Sampang:  Belasan warga Desa Bunten Barat, Kecamatan Ketapang, melaporkan Kepala Desa Mereka ke penyidik Kejaksaan Negeri Kabupaten Sampang, Jawa Timur, selasa, 30 Juni 2015. Kepala Desa Bunten Barat, Sukaryadi dilaporkan atas kasus dugaan penggelapan bantuan beras miskin antara tahun 2012 hingga 2014.

"Kami melapor karena raskin yang diterima warga tidak utuh," kata Saturi, salah satu pelapor, Selasa, 30 Juni 2015.

Saturi menyebutkan, sepanjang  2012,  4500 warga miskin di desanya hanya menerima bantuan raskin sebanyak tiga kali. Pada 2013 hanya menerima 4 kali dan pada 2014 hanya tiga kali menerima raskin.

Yang aneh, kata Saturi, berdasarkan informasi dari Bulog, setiap bulannya desa Bunten Barat menerima 11 ton raskin. "Jadi, kemana 26 bulan sisa raskin untuk kami, jaksa harus menelusuri ini," ujar dia.

Sementara itu, Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Sampang, Misjoto mengatakan perlu mendalami laporan warga tersebut. Dia juga meminta warga menyertakan bukti tertulis dalam laporan selain kesaksian lisan. "Kita pelajari dulu laporan warga ini, nanti baru bisa ditindak lanjuti," katanya.

Kepala Desa Sukaryadi belum dapat dikonfirmasi atas laporan warganya tersebut. Pesan singkat dan telepon konfirmasi yang dikirim belum direspon.