Kamis, 27 Agustus 2015

Bertemu Mentan, Petani Keluhkan Harga Beli Beras Bulog

Rabu, 26 Agustus 2015

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman membuka Rapat Upaya Khusus Peningkatan Industri Perberasan‎ di lapangan Kantor Pusat Kementerian Pertanian, pada Rabu (26/8/2015).

Dalam‎ pembukaan rapat tersebut, Amran mengajak diskusi beberapa petani gabah. Dari hasil dialognya para petani tersebut mengeluhkan harga beli Perum Bulog yang terlalu rendah.

"Kalau diminta jual ke Bulog, itu kami juga pastikan dulu, berapa harga belinya. Kalau kami diminta suruh setor-setor saja, kita juga keder," kata salah satu petani asal Sukabumi, Bambang saat berdialog dengan Amran.

Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu petani asal Gunung Kidul, Suhardi. Dia mengungkapkan belum bisa menyetorkan hasil panennya dikarenakan harga beli Bulog yang masih rendah.‎

"Justru malah harga di koperasi kami malah lebih tinggi, jadi lebih baik kami jual ke koperasi," kata Suhardi.

Meski wilayah Gunung Kidul tengah dilanda kekeringan, namun Suhardi menuturkan, pihaknya mampu memproduksi 20 ton beras dalam empat bulan ke depan.

Tidak jauh berbeda dengan kedua petani sebelumnya, Asep Gumilang yang juga sebagai petani asal Sukabumi tersebut siap memasok beras untuk Bulog mencapai 3.000 ton pada September. Pasokan itu dikirim dengan catatan harga yang ditawarkan Bulog tidak terlalu murah.

Selain itu, Asep juga meminta kepada Amran untuk memerintahkan pejabat daerahnya untuk turun ke lapangan. Hal itu perlu mengingat selama ini tidak ada petugas dari Kementerian Pertanian yang turun terutama ke Pelabuhan Ratu.

"Tolong Pak, selama ini dari dinas pertanian tidak pernah turun ke lapangan, jadi tidak pernah tahu situasi kami di sana seperti apa. Ada sekitar 400 hektar kekurangan air, Pak, tapi tidak pernah ada bantuan," ujar Asep.

Menanggapi itu, Amran juga meminta kepada Bulog untuk lebih terbuka kepada para petani. Jika ada keluhan diharapkan Bulog bisa berdialog dengan para petani untuk mendukung percepatan swasembada pangan, terutama swasembada beras.  (Yas/Ahm)

http://bisnis.liputan6.com/read/2302474/bertemu-mentan-petani-keluhkan-harga-beli-beras-bulog

Kepala Bulog Diberondong Masalah Pajak oleh Petani

Rabu, 26 Agustus 2015

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti diserbu banyak pertanyaan oleh para petani dari berbagai daerah terkait adanya penarikan pajak penghasilan (PPh) dari hasil penjualan para petani kepada Bulog.

Setelah mengikut rapat industri perberasan nasional, Djarot Kusumayakti yang hendak ingin jalan keluar langsung diserbu oleh para petani dari berbagai daerah. Mereka menanyakan masalah PPh kepada Djarot hingga membuat kepala Bulog itu pusing kepala.

"Sudah lima kali saya ditanyai soal pajak ini. Saya sampaikan ya, keputusan pajak itu  ada dari dirjen pajak. Tolong kalo ada yang yang narik PPh, sampaikan itu sudah ada suratnya hari ini pada saya," ujar Djarot di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2015).

Djarot mengaku sudah mengkoordinasikan dengan pihak Direktorat Jenderal Pajak untuk menunda keputusan penarikan pajak tersebut. Untuk itu Ia berharap PPh itu dapat segera dibatalkan.

"Saya hanya memberitahukan untuk menunda. Saya berharap PPh itu segera dibatalkan," jelas Djarot kepada para petani tersebut.

Di sisi lain, seorang petani sempat menceritakan saat menjual padinya kepada Bulog, terdapat pajak sebesar 1,5 persen dari hasil beras yang dijualnya. Untuk itu si petani ingin menerima penjelasan dari Kepala Bulog itu.

"Kami sudah membayarnya kemarin. Jika sudah jelas kan, kami bisa ambil lagi pajak yang kemarin kami bayarkan,"ungkap salah seorang petani.

SAW
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/08/26/424872/kepala-bulog-diberondong-masalah-pajak-oleh-petani

Rabu, 26 Agustus 2015

Sinyal Jokowi untuk Rizal Ramli: Di balik Gebrakan Rajawali

Rabu, 26 Agustus 2015

KONFRONTASI- Kini tugas dan wewenang Menko Kemaritimin Rizal Ramli, sang Rajawali,  bukannya dibatasi atau dipreteli Presiden Jokowi, malah ditambah oleh Presiden Jokowi sendiri. .Sinyal kuat redupnya dominasi Wapres Jusuf Kalla yang sudah sepuh  dalam pemerintahan.

Benarkah Presiden Jokowi sengaja menarik Rizal Ramli masuk ke dalam lingkar kekuasaan untuk menghadapi “lawan-lawannya” dan mendobrak ketidakberesan?

Rizal Ramli memang diakui hebat. Memberikan shock therapy atau suara kritis atas Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri BUMN Rini Soemarno, tugas dan wewenang Menko Kemaritimin ini bukannya dibatasi atau dipreteli, eh malah ditambah oleh Presiden Jokowi.

Semula Kementerian Koodinator Bidang Kemaritiman yang dipimpin Rizal mengkoordinir kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Pariwisata. Tapi kini,  juga menangani  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) serta Kementerian Pertanian (Kemtan), yang sebelumnya di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian.

“Ya, presiden menugasi saya untuk menangani juga dua kementerian itu,” kata Rizal Ramli kepada Beritasatu.com, Jumat (21/8). Rizal bilang, tugas tambahan ini dimaksudkan untuk lebih mempercepat pembangunan infrastruktur dan meningkatkan pasokan bahan pangan.

Dulu, saat berada di lingkaran pemerintahan, Rizal boleh dibilang cukup sukses menjalankan tugasnya.  Ketika menjadi Sekretaris Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog), dan Menko Perekonomian, ia melakukan sejumlah dobrakan kebijakan yang terbukti mampu menjadi solusi yang cepat dan tepat.

Di Bulog, misalnya, Rizal melakukan restrukturisasi besar-besaran. Terjadi pergantian dan mutasi lima jabatan eselon satu dan dua. Semua itu dilakukan agar Bulog menjadi organisasi yang transparan, akuntabel, dan lebih profesional.

Keberpihakan kepada para petani, diwujudkan dalam bentuk peningkatan pembelian gabah, bukan beras dari petani. Bukan rahasia lagi, pembelian beras oleh Bulog kerap menimbulkan kecurangan yang dilakukan oleh para tengkulak. Mereka membeli beras petani, kemudian dioplos dengan beras impor, lalu dijual ke Bulog.

Cara seperti itu, tentu saja merugikan para petani karena beras yang dihasilkan di sawahnya hanya sebagian kecil yang dibeli oleh Bulog. Itulah sebabnya sebagai Kepala Bulog, Rizal kerap turun ke lapangan, ke desa-desa untuk bertemu dengan para petani.

Dia juga melakukan sejumlah perubahan radikal. Antara lain, merapikan rekening-rekening ‘liar’ yang jumlahnya mencapai 119 rekening menjadi hanya 19 rekening saja. Rizal pun memerintahkan sistem akuntansi Bulog diubah supaya lebih transparan dan accountable. Dana off budget harus menjadi on budget. Dia mewariskan Rp 1,5 Trilliun dari Bulog hasil penghematan dan effisiensi.

Dia juga pernah merestrukturisasi seluruh kredit properti, UKM, dan petani tahun 2000.  Rizal berhasil menggaet dana hingga Rp 4,2 triliun tanpa menjual selembar pun saham BUMN. Caranya, dia menghapus cross ownership alias kepemilikan silang dan manajemen silang (cross management) antara PT Telkom dan PT Indosat di puluhan anak perusahaannya.

Lewat kebijakan ini, negara memperoleh pendapatan berupa penjualan silang saham dan pajak revaluasi aset kedua perusahaan senilai Rp 4,2 triliun. Dan yang tidak kalah pentingnya, kedua perusahaan tersebut jadi bisa bersaing secara sehat. Ujung-ujungnya, konsumen juga diuntungkan.

Tentu masih ada beberapa kisah sukses Rizal lainnya. Misalnya, dia melakukan operasi penyelamatan PLN dari bayang-bayang kebangkrutan karena mark up puluhan proyek pembangkit listri swasta. Dia mengambil inisiatif untuk melakukan revaluasi aset BUMN. Hasilnya, aset sebelumnya hanya Rp 52 triliun melambung menjadi Rp 202 triliun. Sedangkan modal dari minus Rp 9 triliun menjadi Rp 119,4 trilliun. Dia juga mengarahkan negosiasi utang listrik swasta PLN dari US$ 85 miliar turun menjadi US$ 35 miliar. Ini menjadi sukses negosiasi utang terbesar dalam sejarah Indonesia.

Sederet sukses inikah yang kemudian membuat Presiden Jokowi kesengsem sehingga memperluas tugas dan wewenang Rizal sebagai Menko Kemaritiman? Bisa jadi demikian. Tapi di tengah perseteruannya dengan Jusuf Kalla dan Rini Soemarno yang baru adem tiga hari, penambahan tugas yang diberikan Jokowi kepada Rizal tentu saja mengundang pertanyaan publik. Ada apa di balik semua ini? Benarkah Jokowi sengaja menarik Rizal masuk ke dalam lingkar kekuasaan untuk menghadapi “lawan-lawannya” dan mendobrak ketidakberesan?

Keberanian Rizal menantang Jusuf Kalla untuk berdebat di depan umum tentang proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt, juga menyimpan pertanyaan. Seberani itukah Rizal? Pepatah bilang, tak ada asap kalau tak ada api.

Wakil Presiden Jusuf Kalla melalui juru bicaranya Husain Abdullah mengatakan, ucapan analis politik Tjipta Lesmana, yang menyebut dirinya bakal mundur jika Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli tak dicopot, hanyalah fantasi. "Tidak benar dan tanpa dasar. Itu imajinatif," kata Husain di Jakarta, Ahad, 23 Agustus 2015.

Menurut Husain, Jusuf Kalla sempat menegur Rizal saat sidang kabinet. "Wapres Jusuf Kalla meminta RR (Rizal Ramli) sebagai bawahan agar patuh pada atasan," ujarnya. Husain menuturkan kondisi pemerintahan saat ini berjalan bagus meski beberapa hari lalu sempat terjadi reshuffle kabinet. "Konsolidasi dan roda pemerintah berjalan baik,"ujarnya. (konfrontasi/indonesianreview)

http://www.konfrontasi.com/content/politik/sinyal-jokowi-untuk-rizal-ramli-di-balik-gebrakan-rajawali

Saksi Ngaku Karung Bulog Rusak

Selasa, 25 Agustus 2015

Hasil Penyelidikan Sementara Dugaan Penyelewengan Raskin

PAMEKASAN – Polres Pamekasan telah memanggil berbagai pihak untuk mengungkap dugaan penyelewengan beras untuk masyarakat miskin (raskin) di Desa Bujur Timur, Kecamatan Batumarmar. Di antaranya, sopir truk berinisial J, Kepala Desa (Kades) Bujur Timur Muhammad Hori, pihak Kecamatan Batumarmar Rudy Hartono, dan penerima manfaat bantuan raskin.

Tapi sejauh ini belum ada satu pun di antara pihak-pihak itu yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan penyelewengan raskin. Kapolres Pamekasan AKBP Sugeng Muntaha menjelaskan, pihaknya belum bisa menetapkan tersangka karena tidak cukup bukti. Terlebih, saksi kunci yakni J belum bisa diperiksa karena sakit.

Polres berencana akan mencari bukti tambahan untuk mengungkap dugaan penyelewengan raskin. ”Kami memang telah memintai keterangan berbagai pihak. Namun kami butuh bukti yang lebih kuat. Sebab saat itu, masyarakat menangkap truk pengangkut raskin dalam perjalanan,” kata dia.

Seandainya penangkapan dilakukan di luar Desa Bujur Timur, lanjut Sugeng, tentu pengungkapan dugaan penyelewengan raskin lebih mudah. Jadi untuk saat ini, polisi akan menelusuri terlebih dahulu raskin itu mau dibawa kemana.

Tapi, indikasi raskin itu akan diselewengkan sangat kuat. Sebab karung kemasan raskin diganti dengan karung pakan ternak. Karena itu, Sugeng berjanji akan memanggil pihak-pihak terkait lainnya untuk dimintai keterangan, tak terkecuali pihak Bulog.

”Berdasarkan keterangan J dan Kades, kemasan raskin diganti karena karung dari Bulog rusak. Kami akan menguji kebenaran keterangan ini, akan kami cari bukti pendukung. Mudah-mudahan kasus ini segera terungkap,” tegasnya.

Sementara itu, manajemen Bulog Sub Divre XII Madura Pamekasan tidak ada yang mau memberi penjelasan tentang penebusan raskin untuk Desa Bujur Timur. Menurut pihak Sub Divre XII, yang mengetahui data penebusan raskin adalah bagian gudang Bulog. Sebaliknya, kata gudang Bulog, yang mengetahui penebusan raskin adalah pihak Sub Divre XII.

Untuk diketahui, Polres Pamekasan mengamankan 3 ton raskin di Desa Bujur Timur, Kecamatan Batumarmar pada Sabtu lalu (22/8). Raskin tersebut diduga akan diselewengkan dengan menggunakan truk bernomor polisi (nopol) M 8711 UA. Indikasinya, kemasan raskin dalam truk yang dikendarai J diganti dengan karung pakan ternak ukuran 50 kilogram. (sin/hud)


http://radarmadura.co.id/2015/08/saksi-ngaku-karung-bulog-rusak/

Selasa, 25 Agustus 2015

Warga Keluhkan Raskin Tak Layak Konsumsi

DELISERDANG - Warga Desa Suka Mandi Hulu, Kecamatan Pagar Merbau, Deliserdang, mengeluhkan ada beras untuk rakyat miskin (raskin) dari Badan Urusan Logistik (Bulog) yang tidak layak konsumsi.

Warga menjelaskan, kondisi raskin yang mereka beli seharga Rp1.600 per kilogramnya pada Agustus, sudah menggumpal, kotor, bau, berwarna kehitaman, dan berkutu, sehingga saat dimasak mengeluarkan aroma tidak sedap.

Supriadi, 69, seorang warga yang menerima jatah raskin ini menerangkan, akibat buruknya kualitas raskin ini, keluarganya terpaksa harus mencampur raskin dengan beras yang kualitasnya lebih baik, sehingga layak dimakan. Kakek delapan cucu ini saat ditemui di kantor kepala desa mengaku terpaksa membeli raskin meskipun kualitasnya buruk karena tidak ada pilihan lain.

“Terpaksa harus dicampur dengan beras yang kualitasnya lebih baik agar bisa dimakan. Kalau tidak dicampur nasinya bau,” ucap kakek yang mengaku sudah lebih dari lima tahun menerima jatah raskin, akhir pekan lalu. Supriadi menambahkan, kondisi raskin berkualitas buruk ini bukan terjadi pertama kali saja.

Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena beras yang berkualitas baik harganya mahal. “Biasanya kondisinya baik tapi kadang-kadang kualitasnya juga buruk. Sebenarnya raskin yang berkualitas buruk sudah tidak layak dimakan tapi mau bagaimana lagi kalau beli beras berkualitas bagus mahal,” ujarnya.

Kepala Desa Suka Mandi Hulu, Tunggul Siahaan, mengatakan, raskin ini datang pada 10 Agustus sebanyak 144 karung dengan berat 15 kg per karung. Saat dibagi pada 12 Agustus, ternyata kualitas raskin buruk. Namun, dia tetap membagikan jatah raskin ini kepada 216 kepala keluarga (KK).

Ternyata bukan hanya warga Desa Sukamandi Hulu yang menerima jatah raskin yang berkualitas buruk ini. Diperkirakan ribuan warga miskin lainnya yang mendapatkan jatah raskin ini juga menerima raskin berkualitas buruk dan tidak layak dikonsumsi. Berdasarkan keterangan petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pagar Merbau, Muhammad Fahri, hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Pagar Merbau mendapatkan jatah raskin berkualitas buruk.

Berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya ternyata 16 desa yang ada di Kecamatan Pagar Merbau juga terjadi hal yang sama. “Hampir di seluruh desa yang ada di Kecamatan Pagar Merbau kondisi raskinnya berkualitas buruk dan tidak layak dikonsumsi,” ucapnya. Muhammad Fahri menegaskan, sudah melaporkan hal ini ke Kementerian Sosial secara online . “Tapi memang belum ada respons,” tandasnya.

M Andi Yusri    

http://www.koran-sindo.com/read/1036343/151/warga-keluhkan-raskin-tak-layak-konsumsi-1440387690

Hafiz Tohir: Gimana nih BULOG, yang lama belum kepake, sekarang minta lagi

Selasa, 25 Agustus 2015

KONFRONTASI - Dalam rapat kerja komisi VI dengan Perum Bulog senin (24/08), ketua komisi VI DPR RI Ir. H. Achmad  Hafiz Tohir mengatakan ini Bulog seperti baru kawin eh mau kawin lagi pasalnya pernyertaan modal negara (PMN) dalam APBN Tahun 2015 sebesar Rp 3 Triliun serapan masih belum ada sama sekali  karena persoalan birokrasi yang cukup panjang, eh untuk RAPBN 2016 minta lagi PMN 2 Triliun.

"PMN 2015 ini sudah di setujui komisi VI dalam raker dengan BUMN pada 10/02/2015 tapi ini sudah Agustus belum cair juga. Infonya sih peraturan presiden (Perpres) tentang ini sudah keluar bulan Juli. Ini susah jadinya pantas saja kalau terus begini pertumbuhan ekonomi kita terus  melambat karena serapan anggaran APBN yang rendah" ujar Hafiz.

Menurut anggota FPAN ini, permintaan tambahan PMN Bulog 2 Triliun untuk RAPBN 2016 ini mungkin akan agak susah dan  njilimet karena harus ada sinkronisasi kembali antara komisi VI, komisi XI dan Badan Anggaran DPR. Pasti akan ada pertanyaan besar dan perdebatan untuk ini. " Kan belum tau nih yang 3 Trilun gimana output dan hasilnya, kalau minta lagi kan harus betul betul rasional meski kalau dalam akuntansi keuangan ini tidak sehat tuturnya.

Tugas Bulog ini sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak terkait beras, kedelai, cabe dan terakhir soal daging  sapi dimana ada penugasan khusus kepada Bulog. " Nanti akan di pertimbangkan bagaimana solusi yang terbaik. Kita ingin dalam situasi ekonomi yang sulit ini, baik DPR maupun pemerintah bisa bergerak cepat dan solid dalam menyelesaikan persoalan utama rakyat ini" pungkas Hafiz.[ian]

Senin, 24 Agustus 2015

Bulog Kerawang Bobol, Raskin Tak Layak Konsumsi Dibagikan di Bekasi

Minggu, 23 Agustus 2015


Rimanews - Beras miskin (Raskin) dari gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) di Karawang, Jawa Barat tidak layak konsumsi. Beras sebanyak 10 ton itu saat disalurkan ke ribuan warga di Desa Cipayung, Kabupaten Bekasi, dianggap patah tiga atau mirip seperti bubuk.
Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cipayung, Zuli Zulkipli mengatakan, temuan itu terjadi pada saat pengiriman beras Bulog Karawang ke Desa Cipayung pada Jumat (21/8/2015) lalu. "Ternyata saat dicek beras itu sudah patah tiga, alias tidak layak konsumsi. Sehingga kami tolak beras itu," kata dia, Minggu (23/8/2015).
Zuli menambahkan, pengiriman Raskin itu sudah menjadi rutinitas yang diterima warga Cipayung pada Agustus ini. Melalui desa, beras itu dibeli Rp1.000 per kilogramnya. Rencananya, pembelian bulan ini sebanyak 15 ton raskin.
"Saat pengiriman pertama langsung dikirim dua truk cold diesel. Satu truck bermuatan 10 ton beras, satu lagi 5 ton beras," imbuh Kepala BPD Cipayung itu
Namun, saat dilakukan pengecekan di mobil pertama, Zuli mengaku, kondisi beras sudah patah tiga (tidak layak konsumsi). Sehingga, truk yang bermuatan 5 ton enggan menurunkan muatan raskin, karena warga sudah menolaknya. "Akhirnya, truk yang bermuatan 5 ton, tidak jadi menurunkan beras, dan kembali lagi di gudang," ujarnya.
Zuli berharap, Pemerintah Kabupaten Bekasi mempertimbangkan pengambilan beras ke Bulog Palumbansari, Karawang, Jawa Barat. Dia khawatir kejadian yang sama bisa terulang.

Update : Wisnu Cipto Nugroho
Sumber : Rimanews

http://m.nasional.rimanews.com/peristiwa/read/20150823/230242/Bulog-Kerawang-Bobol-Raskin-Tak-Layak-Konsumsi-Dibagikan-di-Bekasi