Sabtu, 15 Desember 2012

Impor Pangan Bakal Tembus Rp. 90 Triliyun

15 Desember 2012

JAKARTA-Nilai impor bahan pangan tahun depan diperkirakan menembus angka 90 triliun rupiah. Impor terbesar berupa gandum, kedelai dan beras. Prediksi ini, jika pemerintah tidak memiliki kebijakan pangan dan pembatasan impor pangan yang tegas.

“Akhir tahun ini impor pangan mendekati 80,6 triliun rupiah, tahun depan kita prediksi naik 11,6 persen di atas 90 triliun rupiah.," kata Ketua Masyarakat Agrobisnis Indonesia (MAI), Fadel Muhammad, dalam diskusi tata kelola pangan Jakarta Jumat (14/12).

Menurut Fadel, dari impor tanaman pangan tersebut, gandum menjadi kontributor terbesar dengan volume impor 7 juta ton, diikuti kedelai 1,5 juta ton, jagung sebesar 1,5 juta ton dan beras tahun ini sekitar 700 ribu ton. Jadi secara umum tanaman pangan masih bergantung ke impor.

Seharusnya, kata Fadel, pemerintah bisa mengurangi ketergantungan impor dengan berbagai cara mulai dari meningkatkan pendapatan petani yaitu mengurangi cost budidaya dan meningkatkan produktivitas. Serta mengeluarkan kebijakan pengelolaan pangan yang efisien.

Cara lain untuk mengurangi ketergantungan pangan, dengan melakukan diversifikasi pangan. Misalkan impor gandum dikurangi kemudian pemerintah mendorong produksi sorgum dan singkong yang diolah menjadi tepung singkong atau modified cassava flour.

“Singkong mudah dibudidayakan dan sudah dikenal oleh masyarakat petani, sehingga mengolah singkong menjadi mocaf akan meningkatkan nilai tambah singkong dan menciptakan lapangan kerja di pedesaaan," ungkapnya.

Ditempat yang sama, Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyo Hussein, menyatakan tepung singkong mampu menggantikan tepung terigu dari gandum."Tahun ini saja kami mendapatkan kontrak untuk mensuplai satu juta ton tepung mocaf ke produsen tepung (Indoofod). Mereka ingin mengganti 20 persen tepung gandum menjadi mocaf," ungkapnya.

Suharyo menyebut, secara perlahan tepung mocaf bisa mengganti impor tepung gandum. Ia mencontohkan, jika setiap tahun, jumlah impor tepung gandum mencapai 7 juta ton, masyarakat singkong berharap 1,5 juta ton di isi tepung singkong.

Terkait dengan itu, Ekonom Senior Indef Bustanul Arifin mengatakan pemerintah belum mampu menyediakan alternatif pangan non gandum, akibatnya ketergantungan impor tetap tinggi.

“Ironisnya lagi saat ini kita importir ubi kayu terbesar, data ekspor ubi kayu Thailand ke Indonesia mencapai dua juta ton. Di tingkat lokal, pemerintah tidak memberikan insetif harga, akibatnya petani enggan menanam," paparnya.
Selama harga tidak menarik, kata Bustanul, maka petani tidak akan melakukan pertanaman ubi kayu. Insentif harga sangat diperlukan, kondisi itu pernah terjadi di tanaman kedelai.

Menurut Bustanul, secara umum pangsa pasar impor produk pertanian kondisinya agak mengkhawartirkan. Selama 20 tahun terakhir, Indonesia 100 persen mengimpor gandum dan benang kapas untuk bahan pakaian. Impor terbesar lain yaitu kedelai (78 persen) dan susu (75 persen).

Lebih lanjut Bustanul menyebut, selama ini dukungan pemerintah ke petani masih minim. Insentif harga, dukungan teknologi dan penjaminan pasar tidak kunjung membaik.

“Yang terjadi justru tingkat pemiskinan petani semakin masif, karena luas lahan yang dimiliki petani tidak beranjak dari 0,5 hektare, reforma agraria tidak berjalan. Anggaran 18 triliun rupiah di Kementerian Pertanian juga belum mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan," ungkapnya.

Pembiaran Impor
Pengamat Ekonomi Pertanian Khudori mengatakan, pembiaran terhadap importasi gandum, memicu defisit perdagangan Indonesia sekitar 24 triliun rupiah. Alih-alih melakukan intervensi, pemerintah terkesan membiarkan impor tersebut.

"Tahun lalu impor gandum dan terigu sebesar 6,47 juta ton, nilainya 2,6 miliar dolar atau sekitar 24 triliun rupiah. Gandum menjadi penyumbang devisit terbesar di sub sektor perdagangan produk pertanian," ujarnya.

Khudori menyebutkan, dari total defisit sub sektor tanaman pangan sebesar 6,439 miliar dollar, gandum menyumbang defisit sebesar 2,6 miliar dollar AS, diikuti impor beras sebesar 1,5 miliar dollar AS atau setara 14 triliun rupiah, dan pangan lain penyumbang defisit yaitu kedelai serta jagung.

Di sub sektor peternakan menyumbang defisit sebesar 1,446 miliar dollar AS, sub sektor hortikultura menyumbang defisit 1,194 miliar dollar AS sedangkan sub sektor perkebunan memberikan devisa atau surplus sebesar 31,86 miliar dollar AS. Kondisi defisit tersebut, imbuhnya akan terus meningkat jika pemerintah tidak menyiapkan strategi pangan yang tepat dan membiarkan angka impor terus naik.

“Penyumbang defisit terbesar itu sub sektor pangan dan biang keladinya gandum, yang menyumbang defisit sekitar 24 triliun rupiah. Mestinya pemerintah menciptakan substitusi terigu, pengganti tepung terigu dari gandum. Kita punya potensi yang besar untuk substitusi itu. Ada singkong, ganyong, ketela rambat," tegasnya.

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/108042

Tidak ada komentar:

Posting Komentar