11 Desember 2012
Pemerintah Dianggap Tidak Pernah Berpihak Kepada Petani
RMOL.Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Badan Urusan
Logistik (Bulog) saling lempar tanggung jawab. Keduanya tidak mau
disalahkan soal kebijakan impor beras. Wakil Menteri Pertanian
(Wamentan) Rusman Heriawan mengatakan, impor beras dilakukan karena
manajeman stok Bulog tidak jalan.
“Impor yang dilakukan bukan karena produksi beras nasional
merosot. Justru sebaliknya, tahun ini produksi beras nasional mengalami
kenaikan 4,9 persen jika dibanding tahun sebelumnya,” katanya di
Jakarta, kemarin.
Rusman mengaku produksi sampai akhir tahun diperkirakan 38 juta ton
beras, sedangkan kebutuhan hanya 33 juta ton. Jadi masih ada surplus
sekitar 5 juta ton.
Namun yang jadi masalah, menurut dia, ada waktu-waktu di mana tidak
panen sehingga stok pada bulan tertentu mengalami penurunan. Rusman
mengatakan, mestinya Bulog sudah mengantisipasi bergesernya musim
tanam yang berdampak pada perubahan waktu panen.
Dia menekankan, perlunya langkah cerdas dalam manajemen stok,
sehingga stok beras yang ada di Bulog setiap saat ada dan mampu memenuhi
kebutuhan terutama dalam penyaluran raskin. Karena itu, Kementan bisa
memahami opsi yang diajukan Bulog berupa impor beras sekitar 700 ribu
ton.
Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso menegaskan, impor beras merupakan
kebijakan dari pemerintah pusat untuk menjaga cadangan beras. Bahkan,
pihaknya siap menghadapi audit kebijakan impor beras 2012 oleh
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Menurut dia, Bulog menyambut baik langkah BPK yang akan melakukan
audit kebijakan impor beras dan diharapkan hasilnya bisa memberikan
masukan dan perbaikan bagi pemerintah dan Bulog dalam melakukan impor
beras tahun depan ataupun swasembada pangan.
“Kebijakan impor beras adalah kebijakan pemerintah. Keputusan BPK
mengaudit kebijakan impor beras adalah keinginan BPK melihat seberapa
jauh kebijakan itu berjalan, jadi kami sambut baik,” kata Sutarto.
Untuk diketahui, BPK akan melakukan inistiatif mengaudit kebijakan
impor beras di tahun 2012. Audit dilakukan karena kebijakan impor bers
dinilai tak sejalan dengan rencana pemerintah untuk swasembada
pangan.
Sutarto menambahkan, pihaknya tahun ini hanya melakukan impor beras
700 ribu ton dari jatah 1 juta ton. Impor beras tersebut berasal dari
Vietnam sebesar 600.000 ton dan India 100.000 ton. Dari total impor,
jumlah yang sudah terealisasi 300.000 ton. Beras impor itu untuk
menjamin ketersediaan beras awal tahun 2013.
Untuk serapan beras petani, sampai November 2012 sudah mencapai
3,58 juta ton atau hampir dua kali lipat dibanding serapan tahun 2010
dan 2011. Angka tersebut hanya kalah dibanding serapan beras tahun
2009 yang mencapai 3,6 juta ton.
Anggota Komisi IV DPR Nabiel Al Musawa mengatakan, dari awal
pemerintah memang tidak pernah berpihak kepada para petani. Di saat
produksi padi meningkat, pemerintah di bawah koordinasi Menko
Perekonomian melalui Kementerian Perdagangan dan Bulog malah
berkolaborasi melakukan impor beras di akhir tahun ini sebanyak 700
ribu ton.
“Angka itu 72 persen dari izin impor yang diberikan Kementerian Perdagangan sebanyak 1 juta ton,” ujar Nabiel.
Tidak berhenti sampai di situ, menurut Nabiel, langkah pemerintah
melalui Menteri Keuangan memangkas anggaran pertanian pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 serta menolak
Asuransi Petani dan Bank Pertanian.
Belum lagi anggaran untuk pertanian yang tidak lebih dari 4 persen
atau Rp 53,9 triliun dari total belanja APBN 2012 sebesar Rp 1.435
triliun. “Terlihat jelas pemerintah sangat tidak berpihak pada sektor
pertanian. Mereka juga habis-habisan memasukkan berbagai impor pangan
dan hortikultura,” tegasnya.
Menurut dia, masyarakat sebenarnya tidak memerlukan impor beras.
Sebab menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), stok beras nasional
sampai saat ini masih aman, dengan perkiraan produksi padi meningkat
4,87 persen menjadi 68,96 juta ton gabah kering giling (GKG).
Jika impor itu tetap dilakukan, kata Nabiel, ada kecurigaan
permainan mafia yang menguntungkan pihak tertentu yang merugikan
masyarakat. [Harian Rakyat Merdeka]
http://ekbis.rmol.co/read/2012/12/11/89343/Impor-Beras,-Kementan-&-Bulog-Saling-Lempar-Tanggung-Jawab-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar