SERANG, BP - Cadangan beras untuk rakyat
miskin di wilayah Serang dan sekitarnya saat ini tersedia untuk
kebutuhan suplai sembilan bulan ke depan. Jumlah yang tersedia di gudang
Bulog Serang, yakni sebanyak 12.000 ton. Selain itu Bulog juga memiliki
stok beras impor sebanyak 11.000 ton. Demikian diungkapkan Kepala Sub
Divre Bulog Serang, Budi Setiawan saat dikunjungi Kepala Badan Ketahanan
Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Provinsi Banten, Enong Suhaeti dan
rombongan, Kamis (2/5).
“Jika memang ditemukan yang tidak layak
konsumsi, maka laporkan ke kami. Kami akan ganti, dan dalam setiap
pengiriman raskin selalu melewati pemeriksaan pihak independen. Bahkan
jika memang masih kurang puas juga, silahkan datang kesini (Bulog),
pilih sendiri beras yang diinginkan,” ujar Budi, di Gudang III Bulog
Serang.
Dijelaskan Budi, saat ini cadangan beras
yang terdapat di Bulog sebanyak 12.000 ton. Selain itu, terdapat
cadangan beras impor sebanyak 11.000 ton yang siap memenuhi kebutuhan
Raskin. “Untuk mensuplai Raskin, kami juga telah bekerjasama dengan
sejumlah Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan para pengusaha lokal di
Banten. Tentunya beras yang kami terima juga memiliki kualitas yang
sesuai prosedur, yakni APP-nya Rp6.600 per kilogram sesuai Inpres,”
ujarnya.
Sementara itu, Kepala BKPP Provinsi
Banten Enong Suhaeti mengungkapkan, pihaknya akan terus mengembangkan
jumlah Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LPDM) untuk memasok
kebutuhan beras Bulog. “Lembaga ini bertujuan sebagai upaya stabilitas
pangan di daerah. Namun selanjutnya disinergikan dengan Bulog, dan saat
ini sudah ada beberapa LPDM yang bekerjasama dalam suplai kebutuhan
beras Bulog. Salah satunya untuk pasokan Raskin,” ujar Enong, didampingi
Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan BKPP Provinsi Banten, Budiyana.
Ditambahkan Budiyana, saat ini sudah ada
28 LPDM di Provinsi Banten. LPDM-LPDM itu dibentuk dan didanai melalui
APBN. Tahun pertama mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp150 juta,
selanjutnya akan mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp75 juta. “Ada
penambahan, bahkan hingga tahun ketiga, asalkan berhasil dan berkembang
dalam pengelolaannya. Selain bertujuan sebagai stabilitas pangan,
lembaga itu juga bertujuan sebagai pemberdayaan terhadap petani,”
katanya.
Pada tahun 2014, lanjut Budi, pihaknya
menargetkan sebanyak 700 Gapoktan se-Banten. Jumlah itu diharapkan bisa
memenuhi kebutuhan suplai cadangan pangan untuk Provinsi Banten. “Ke
depan, harapannya ada UPT Badan semacam balai cadangan pangan daerah.
Semacam Bulog-nya daerah,” pungkas Budi.(DAM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar