Jumat, 08 Maret 2013

Ekonom: Perluas Peran Bulog

7 Maret 2013

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI rate pada level 5,75 persen. Tingkat BI rate tersebut dinilai masih sesuai dengan sasaran inflasi 2013 dan 2014 sekitar 4,5 persen. Ke depannya, BI akan semakin mencermati perkembangan inflasi yang bersumber dari harga pangan (volatile foods).

Ekonom Indonesian Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika, menilai penekanan utamanya adalah apa yang dikerjakan pemerintah untuk mengelola pasokan dan harga pangan. Larangan impor hortikultura yang dilakukan Kementerian Pertanian pada dasarnya adalah mendorong kemandirian bangsa.

Pertama, Indonesia harus memiliki kemandirian beberapa komoditas pangan strategis yang masih dibutuhkan masyarakat. Roadmap ini harus diperhatikan dan difokuskan pemerintah secara ketat.

Kedua, di masa transisi Indonesia yang belum mandiri, maka impor tetap dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan. "Hanya saja, jumlah komoditas yang diimpor itu harus persis sama dengan kebutuhan," kata Erani kepada ROL melalui sambungan telepon. Jumlah yang diimpor tak boleh berlebihan agar tak membanjiri pasar dan menganggu petani. Pemerintah juga perlu memperhatikan kebutuhan dan distribusinya.

Ekonom Universitas Brawidjaya ini menambahkan, Bulog seharusnya disiapkan untuk tak sekadar mengelola pasokan beras saja, melainkan  juga impor beberapa komoditas hortikultura strategis. Dengan perluasan peran Bulog ini, kemandiran bangsa akan jalan dan stabilisasi harganya bisa dikendalikan, diikuti terkendalinya inflasi dari harga pangan.

Kementerian Koordinator Perekonomian, dinilainya, juga perlu mengatasi problem formulasi kebijakan kementerian yang berada di bawahnya. Sebab, kebijakan antarkementerian terkadang menjadi kelemahan.

Tingginya harga pangan, termasuk hortikultura bisa disebabkan dua hal. Pertama, sumber harga pangan internasional yang faktanya memang naik.

Kedua, distribusi hortikultura di level domestik dikuasai segelintir pelaku. Istilahnya, ada mafia distribusi pangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan kartel pangan. Ini biasa terjadi untuk komoditas jagung, kedelai, bawang putih, dan cabai. Erani memperkirakan kontribusi kenaikan harga pangan terhadap inflasi sepanjang kuartal I 2013 ini mencapai dua persen.

Reporter : Mutia Ramadhani   
Redaktur : Nidia Zuraya

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/03/07/mja9bn-ekonom-perluas-peran-bulog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar