Kamis, 13 Desember 2012

Swasembada Pangan ala Suku Badui

13 Desember 2012
Fadel Muhammad
Ketua Umum Masyarakat Agribisnis
dan Agroindustri Indonesia


Indonesia sedang menuju ke fase rawan pangan. Bukan karena tidak adanya pangan, melainkan karena kebutuhan pangan untuk rakyat sudah makin besar ketergantungannya pada suplai atau impor dari luar negeri. Sementara kemampuan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri relatif menurun drastis. Kita tidak menyadari bahwa pasar pangan Indonesia amat besar dan menjadi incaran produsen pangan luar negeri yang tidak menginginkan Indonesia memiliki kemandirian di bidang pangan.
Krisis pangan sebenarnya sudah sering terjadi, seperti kasus lonjakan harga kedelai beberapa waktu lalu. Kemudian, disusul fenomena impor beras dan gula serta komoditas pangan lainnya dan melonjaknya harga daging sapi. Itu semua pertanda Indonesia belum berdaulat di bidang pangan karena pemerintah tidak sungguh-sungguh membangun kedaulatan pangan.
Sudah saatnya Indonesia membuat tata kelola pangan untuk menuju tercapainya kedaulatan pangan. Tidak ada salahnya kita meniru tata kelola pangan dari masyarakat Badui yang dikenal sangat konsisten menjaga kedaulatan pangannya.
Sebagian antropolog menggolongkan suku Badui sebagai masyarakat terasing. Namun, mereka bukan warga miskin dan tidak mampu. Sebab, tidak pernah ada orang Badui kelaparan atau busung lapar gara-gara tidak punya beras. Masyarakat Badui dikenal sangat mandiri dalam hal pangan.
Sebagai peladang budi daya padi, masyarakat Badui mengandalkan sistem tadah hujan. Menabung pangan melalui sistem leuit (lumbung padi) adalah kewajiban mereka. Leuit adalah karya lokal jenius suku Badui, di mana sistem penyimpanan padi didesain tidak bisa dimasuki tikus dan sejenisnya. Bangunan itu tidak berjendela, hanya ada dua pintu kecil. Pintu sebelah atas untuk memasukkan padi dan pintu bawah untuk mengambilnya.
Orang Badui dikenal sangat hemat dan pandai menjaga persediaan pangan mereka. Berapa pun banyaknya padi dalam leuit miliknya, warga Badui (Kanekes) tetap berupaya membeli beras di samping lauk pauk seperti ikan asin dari luar wilayahnya di Pasar Ciboleger sepanjang memiliki uang. Mengapa?
Pertama, agar hubungan sosial ekonomi dengan warga di luar wilayah adat Kanekes tetap terpelihara. Kedua, orang Badui menjadikan leuit sebagai persediaan pangan menghadapi kemungkinan paling buruk dalam perekonomian mereka. Jika isi leuit tidak lagi penuh, itu alamat tidak baik bagi mereka. Akan terjadi instabilitas dalam kehidupan warga Badui. Karena itulah, jumlah leuit pun terus bertambah dan lebih banyak dari jumlah rumah tinggal mereka.
Selain leuit milik pribadi, terdapat pula leuit yang dimiliki secara komunal. Mungkin kira-kira sama dengan koperasi. Menurut cerita mereka, di leuit itu ada padi yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Leuit serupa terdapat di Badui Dalam (Baduy Jero), yakni di Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Di ketiga tempat itu berdiam para puun (pemimpin tertinggi masyarakat Badui).
Dengan cara itulah, mereka sebenarnya telah mempraktikkan swasembada pangan karena dituntut mengatur sendiri agar makanan tidak habis.


 


http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=317168 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar