3 Desember 2012
Rektor UGM Heran Indonesia Masih Saja Berkutat Dengan Impor
RMOL.Gara-gara pemerintah hobi melakukan impor, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung turun gunung mengawasi kebijakan
ketahanan pangan.
Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi
Lumaksono mengatakan, saat ini KPK sudah membuat tim untuk mengawal
ketahanan pangan.
“KPK sudah bikin tim dan UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan
dan Pengendalian Pembangunan) juga ikut mengawal kebijakan ketahanan
pangan,” katanya, Jumat (30/11).
Menurut Adi, alasan lembaga pemberantas korupsi itu ikut mengawasi
karena pangan masalah yang sangat penting. Apalagi jika terjadi
kekurangan pangan pemerintah paniknya luar biasa dan berusaha untuk
mengatasi itu.
“Karena itu, pemerintah harus serius menjaga ketahanan pangan dan tak
sembarangan mengambil kebijakan impor. Saat ini produk pangan impor
sudah membanjiri dalam negeri,” ujarnya.
Ketua KPK Abraham Samad pernah mengatakan adanya jaringan mafia yang
bermain dalam tata kelola impor bahan makanan selama ini. Akibatnya,
masyarakat dibanjiri barang-barang impor yang belum tentu dibutuhkan.
“Hasil penelusuran KPK ini bentuk permainan, tata rantai mafia yang bermain,” tegasnya.
Menurut Samad, masyarakat sebenarnya tidak memerlukan impor daging,
impor susu ataupun impor beras. Namun, impor barang-barang itu terus
dilakukan karena ada permainan para mafia yang menguntungkan
pihak-pihak tertentu namun merugikan masyarakat.
Adi menyatakan, saat ini yang menjadi sorotan adalah kebijakan impor
pemerintah dengan alasan untuk menjaga stok dan ketahanan pangan.
Namun, hingga kini belum ada data berapa produksi pangan dalam
negeri. Karena itu, BPS akan melakukan sensus pertanian tahun depan.
“Sensus ini untuk mengetahui berapa produksi pangan dalam negeri,
sehingga kita tahu kemampuan dan kekurangannya,” jelas Adi.
Sensus ini juga untuk mengetahui apakah kebijakan impor yang
dilakukan pemerintah sudah tepat atau belum. Pasalnya, kebijakan itu
akan berdampak pada petani dalam negeri.
Sedangkan untuk cakupan dari sensus pertanian ini adalah tanaman
pangan dan hortikultura (sayuran, buah-buahan). Termasuk perkebunan,
peternakan, perikanan dan kehutanan.
“Saat ini buah impor banyak membanjiri pasar dalam negeri. Ini
dikeluhkan para petani. Bahkan petani bawang tidak mau memanen
bawangnya,” katanya.
Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Pratikno berpendapat,
tidak masuk akal untuk masyarakat Indonesia dengan kekayaan melimpah
tapi mayoritas petani masih mengalami masalah pangan.
“Ini menjadi ironis di tengah negara lain gencar menyediakan stok
pangan, Indonesia masih saja berkutat dengan impor pangan,” ujarnya.
Dia menduga, korupsi sektor pangan justru terjadi di tingkat
kebijakan, sehingga kondisi menjadi lebih parah karena korupsi
tersebut telah terjadi sebelum mengkorupsi anggaran dan lain-lain.
Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM Zainal Arifin Mochtar
mengatakan, korupsi di bidang pangan terjadi dari hulu hingga ke hilir,
dari pengadaan bibit hingga pengiriman. Dia menawarkan pada KPK
untuk bekerja sama mewujudkan audit kualitas agar benih layak
dibagikan dan tidak pro pasar.
Anggota Komisi VI DPR Sohibul Iman mengatakan, kondisi impor pangan
Indonesia yang merupakan negara agraris sudah sangat mencemaskan.
Defisit pangan Indonesia tahun lalu tembus 9,24 miliar dolar AS atau
mendekati Rp 90 triliun.
Menurut Sohibul, defisit tujuh komoditas pangan utama nasional
terus meningkat. Pada 2011, volume impor beras, jagung, gandum,
kedelai, gula, susu dan daging mencapai 17,6 juta ton senilai 9,4
miliar dolar AS. Defisit pangan tahun 2011 mencapai 17,35 juta ton
dengan nilai 9,24 miliar karena ekspor hanya 250 ribu ton dengan nilai
150 juta dolar AS.
Lebih rinci, data BPS menunjukkan, impor beras Indonesia mencapai
2,75 juta ton dengan nilai 1,5 miliar dolar AS atau 5 persen dari total
kebutuhan dalam negeri. Impor kedelai mencapai 60 persen dari total
konsumsi dalam negeri sekitar 3,1 juta ton dengan nilai 2,5 miliar dolar
AS.
Impor jagung sebesar 11 persen dari konsumsi 18,8 juta ton senilai
1,02 miliar dolar AS, gandum 100 persen impor dengan nilai 1,3 miliar
dolar AS, gula putih 18 persen dari konsumsi atau 1,5 miliar dolar AS
dan daging sapi 30 persen dari konsumsi atau 331 juta dolar AS dan susu
70 persen dari konsumsi. [Harian Rakyat Merdeka]
http://ekbis.rmol.co/read/2012/12/03/87982/KPK-Bentuk-Tim-Buat-Pelototi-Kebijakan-Ketahanan-Pangan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar