1 Desember 2012
Hati Parman miris saat mengajak keluarganya
jalan-jalan di sebuah supermarket di Jakarta, suatu siang. Petani buah
asal Bogor, Jawa Barat, itu sedih bukan karena tak punya uang buat
belanja. Matanya berkaca-kaca melihat aksi puluhan perempuan paro baya
di supermarket itu. Mereka sedang berebut memilih jeruk impor dari Cina
yang baru saja dituang ke rak.
Sementara tak jauh dari situ
nampak jeruk lokal yang menggunung di ember plastik besar. Hanya
sesekali pengunjung memegang dan mencium jeruk lokal, tak sedikit pun
tergerak untuk membungkusnya. Bergeser ke konter sebelah, hati Parman
makin kecut. Beragam aneka buah segar tampak dipajang rapi berhias
aksesoris anyaman bambu.
Ya, begitulah beda nasib antara buah
lokal dan buah impor. Buah lokal ditaruh begitu saja di wadah seadanya.
Buah impor dipajang bak bingkisan buat pengantin. "Gimana petani kayak
saya bisa maju? Yang dijual buah impor semua," ujar Parman.
Ya,
hampir semua jenis barang kebutuhan di negeri ini disesaki dengan
pasokan impor. Mulai dari tempat menaruh pantat di Ruang Banggar DPR
hingga produk pangan seperti garam pun diimpor. Tak heran, di kalangan
pebisnis belakangan ini muncul bisik-bisik bahwa pemerintah sedang hobi
impor. Ada juga yang bilang, mabuk impor.
Lihat saja, apa yang
dilakukan pemerintah pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 ASEAN
yang digelar di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/11) tahun lalu. Pemerintah
Indonesia sangat agresif menandatangani perjanjian bebas seperti FTA
(Free Trade Area) dengan Jepang, FTA Indonesia-Australia, FTA New
Zealand dan lain-lain. Padahal, sebagian besar FTA itu merugikan petani
Indonesia. Misalnya, FTA dengan China yang resmi berlaku 2010.
Perdagangan Indonesia mengalami defisit dari sektor pertanian khususnya
hortikultura.
"Para petani bawang anggota Serikat Petani
Indonesia (SPI) di Cirebon merugi akibat serbuan bawang impor Cina.
Demikian juga petani kentang yang berada di dataran Dieng, Jawa Tengah,
banyak yang merugi, karena membanjirnya kentang impor dari Cina dan
Banglades," ungkap Muhammad Ikhwan dari Serikat Petani Indonesia (SPI).
Selain
kerugian di pihak petani, hobi impor ini tentu akan menyedot uang
negara ke luar negeri. Menurut anggota Komisi III DPR, Martin Hutabarat,
besaran impor pangan Indonesia ternyata mencapai Rp 90 triliun per
tahun. Artinya, dengan Rp 250 miliar per hari kita menyejahterakan
petani petani di negara lain. Sedangkan petani kita selalu dalam kondisi
kekurangan.
Memang, kalau dilihat dari neraca ekspor impor yang
ada, Indonesia masih surplus. Data Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian Kementerian Pertanian menyebutkan, hingga Agustus 2011 lalu
ekspor komoditi pertanian nasional mencapai US$ 25,13 miliar. Sedangkan
impor sebanyak US$ 11,08 miliar atau masih surplus US$ 14,05 miliar.
Dari segi volume, ekspor komoditi pertanian mencapai 17,3 juta ton dan
impor sekitar 15,86 juta ton, sehingga mengalami surplus 1,49 juta ton.
Nilai
impor sebesar itu menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah sama sekali
tidak memihak petani. Inilah yang sedang disuarakan kalangan dewan di
Komisi IV. Selain menyayangkan besarnya devisa yang tersedot ke luar
negeri, mereka mencurigai adanya korupsi di balik kebijakan impor pangan
selama ini. Anggapan ini kian mendekati kebenaran ketika Bambang
Widjojanto 'menjual' isu praktik korupsi di sektor pangan saat
mengajukan diri sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Anggota
Komisi III DPR Martin Hutabarat sempat terpesona dengan presentasi itu.
Ia pun lalu berharap agar Bambang dapat menindaklanjuti presentasinya
saat menjabat pimpinan KPK. "Bambang bisa pergunakan KPK untuk memeriksa
dan mengusut ada kepentingan mafia impor yang meningkatkan impor terus
menerus sehingga petani tidak sejahtera," ujar Martin waktu itu.
Lemah Koordinasi Antarkementerian
Tingginya
nilai impor pangan tak dapat dipisahkan dari kebijakan pemerintah.
Kondisi ini diperparah dengan kian liarnya tingkah importir yang hanya
mementingkan perut sendiri. Inilah yang kemudian menimbulkan reaksi
cukup keras di kalangan DPR.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi
PKS Rofi' Munawar, misalnya, mengritik kebijakan pangan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) yang terlalu tergantung pada impor. Selama dua
tahun masa pemerintahan SBY yang doktor pertanian ini, masalah pangan
justru makin besar dan bahkan masuk kategori sangat membahayakan. Sebab,
kata dia, importasi telanjur merambah semua komoditas pangan. Padahal
seliberalnya kebijakan ekonomi Amerika Serikat, pemerintahnya masih
memberikan proteksi maksimum bagi petani dalam negeri.
Kebijakan
hobi impor ini tak hanya menyulut masalah pangan yang berkelanjutan.
Perkembangan infrastruktur pertanian juga tak kunjung membaik. Kebijakan
pemerintah makin amburadul jika ditilik dari pola koordinasi
antarkementerian terkait. Bayangkan, antara satu kementerian dengan
instansi lainnya masih berseteru. Contohnya, kejadian pada awal Agustus
hingga akhir September tahun lalu. Saat itu Menteri Perikanan dan
Kelautan (ketika itu) Fadel Muhammad ngotot dan meminta Bea Cukai agar
menahan 29 ribu ton garam impor. Sebaliknya, Menteri Perdagangan
(Mendag) Mari Elka Pangestu bersama Menteri Perindustrian (Menperin) MS
Hidayat meminta agar garam impor senilai Rp 7 miliar tersebut dilepas ke
pasar.
Kasus lain, awal bulan Oktober 2011 juga terjadi
perselisihan antara Menteri Perdagangan dengan Menko Perekonomian,
ketika Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan membanjiri pasar
domestik dengan kentang impor. Sehingga pada Juni tahun lalu telah masuk
50 ribu ton kentang impor asal Cina dan India dan beredar luas di
masyarakat. Ini membuat petani lokal merugi karena harga kentang
domestik anjlok lebih dari 50 persen.
Dalam Dana Alokasi Khusus
(DAK) untuk tahun 2012, pemerintah hanya menganggarkan sebesar Rp 1,8
triliun dari total Rp 26,1 triliun untuk bidang pertanian. Melihat
besaran angka ini, anggota Komisi XI DPR Muhammad Firdaus berpendapat,
pemerintah tidak memprioritaskan pertanian dalam pembangunan saat ini.
Ia pun memperkirakan program ketahanan pangan yang digemborkan
pemerintah tak bakal sukses dengan cara begini.
"Mengapa
pertanian tidak menjadi prioritas dalam pembangunan nasional, sementara
negara kita yang dikenal agraris dan 65 persen penduduknya berada di
wilayah pedesaan yang notabene kegiatan ekonominya bersumber dari
pertanian," kata Firdaus terheran-heran.
Kurangi Impor, Perkuat Petani
Saat
ini sejumlah produk pertanian dalam negeri terjepit di antara limpahan
produk sejenis dari negara lain seperti Cina dan Thailand. Daging dan
buah impor yang terlampau melimpah di pasar domestik tentu mempengaruhi
pendapatan negara dari sektor pertanian. Dampak lain terasa ketika
Thailand lumpuh akibat banjir besar beberapa waktu lalu. Saat itu pangan
kita turut terganggu karena sebagian besar produk pertanian yang
dikonsumsi di sini berasal dari sana.
Situasi ini tak bisa
dibiarkan. Untuk itu, menurut anggota Komisi IV DPR RI Hermanto,
pemerintah harus terus meningkatkan daya saing pertanian. Dengan
demikian, kesejahteraan masyarakat bakal meningkat. Tetapi, kata dia,
"Kalau pemerintah terlambat, maka komoditi pertanian global akan terus
membanjiri negeri ini."
Ecky Awal Mucharam, anggota Komisi VI DPR
RI dari Fraksi PKS, pun melontarkan usulan senada. Ia mengingatkan
pemerintah akan pentingnya swasembada beras. Impor beras sudah menjadi
agenda tahunan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Beras
semestinya dipenuhi dari dalam negeri karena merupakan kebutuhan pokok
masyarakat.
"Beras itu pasarnya tipis di dunia, hanya sedikit
penjualnya. Terlalu riskan kalau ketahanan pangan kita bergantung kepada
pasar dunia. Tanpa ketahanan pangan, kestabilan moneter kita
dipertaruhkan karena beras itu besar kontribusinya besar terhadap
inflasi. Kalau moneternya tidak stabil, bagaimana mungkin pembangunan
bisa berjalan," ujar anggota DPR Dapil Jawa Barat III ini.
Ketua
Komisi IV DPR M Romahurmuziy mengusulkan kepada pemerintah agar impor
sapi dan daging sapi dihentikan di tahun 2012. Usulan ini masuk akal.
Pasalnya, berdasarkan data sensus terkait pertumbuhan sapi hingga bulan
Oktober 2011, potensi sapi lokal telah mencapai angka 14,8 juta ekor.
Sedangkan program swasembada daging sapi yang dicanangkan pada tahun
2014 ditargetkan pada angka 14,2 juta ekor. Jika potensi ini bisa
dipertahankan, maka kita masih punya kelebihan cadangan sebanyak 0,6
juta ekor.
"Kami menolak untuk diteruskannya impor daging dan
sapi pada tahun 2012. Sebab, saat ini populasi sapi domestik sudah cukup
tinggi. Dan, saya rasa kalau untuk swasembada daging sapi yang
ditargetkan pada tahun 2014 sudah cukup," kata Romy.
Romy
khawatir penjual sapi dan daging sapi lokal bakal tertekan jika
pemerintah meneruskan kebijakan impor sapi. Pasalnya, harga sapi dan
daging yang berasal dari impor lebih murah ketimbang sapi dan daging
lokal. Selisih harga didapat dari kemudahan distribusi. Distribusi
daging sapi dari Australia ke Indonesia lebih murah ketimbang dari Jawa
ke Kalimantan.
Namun, kekhawatiran Romy bakal terus berlanjut.
Soalnya, akhir tahun lalu, Kementerian Pertanian menyatakan impor daging
akan tetap dilakukan hingga akhir tahun 2011 dan tahun-tahun mendatang.
Hal itu sesuai dengan hasil rapat di Kementerian Perekonomian.
Solusi
lain yang sedang ditawarkan DPR adalah pembahasan Rancangan
Undang-undang (RUU) Pangan. Sayangnya, belum sempat bergulir jauh, draf
RUU ini sudah dihujani kritik. Ketua Lembaga Penelitian Pengkajian dan
Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin, Didik J Rachbini menyebut, RUU Pangan
cenderung dekat dengan liberalisasi pangan. Sebabnya, di situ terdapat
peran swasta yang ikut main sebagai spekulan. Misalnya, pada Pasal 51
RUU Pangan disebutkan, sumber penyediaan pangan berasal dari produksi
pangan dalam negeri, cadangan pangan, dan impor, meskipun harus
diutamakan produksi dan cadangan dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi
IV DPR Herman Khaeron yang turut menggulirkan RUU ini kontan membantah
tudingan Didik. "Tidak ada peran swasta, apalagi impor beras dibatasi
dan dibuat aturan yang ketat," kata Herman.
Swasta tak boleh,
muncul usulan lain. Kali ini dari pemerintah. Kementerian Negera BUMN
mengusulkan pembentukan korporasi pangan guna mengendalikan segala aspek
seputar pangan. Usulan ini disambut hangat anggota Komisi IV DPR,
Ma'mur Hasanuddin. Ia berharap korporasi itu segera diwujudkan karena
sejak tahun 2012 ini tantangan terbesar bagi negara ini adalah masalah
pangan dan energi.
Konsekuensi dari kehadiran korporasi baru ini
adalah tersingkirnya Bulog sebagai operator pangan. Menurut Makmur,
Bulog patut dihapus karena tidak mampu menyerap beras petani dan selalu
mengimpor.
"Hanya orang-orang yang telah merasakan manisnya getah
Bulog saja yang ingin lembaga ini tetap dipertahankan fungsinya seperti
saat sekarang," cetus Ma'mur.
Tepatkah solusi ini?
http://www.jurnalparlemen.com/view/224/akibat-pemerintah-mabuk-impor.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar