8 Mei 2013
JAKARTA (Berita Dewan) Gandum atau lebih populer
dikenal dengan nama tepung terigu, sebagai bahan pangan telah memasuki
segala aspek kehidupan setiap lapisan masyarakat di Indonesia kurang
lebih empat dekade terakhir. Gandum ini digunakan sebagai bahan dasar
mi, roti, dan kue. Indonesia selama ini sangat ketergantungan gandum dan
harus impor dari Australia, Kanada, Amerika Serikat, Ukraina dan India.
Saat ini, menurut anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Nabiel
Almusawa, konsumsi gandum Indonesia per tahun mencapai 21 kilogram per
kapita. Jumlah itu terbesar kedua setelah beras dan seluruh kebutuhan
gandum masih 100 persen impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2012, impor biji
gandum mencapai 6,3 juta ton dengan nilai US$ 2,3 miliar. Australia
merupakan negara pemasok gandum terbesar dengan total impor gandum
sepanjang tahun lalu mencapai 4,4 juta ton dengan nilai (US$ 1,5
miliar).
Sementara itu, Kanada memasukkan gandum hingga 930,6 ribu ton (US$
389,5 juta), Amerika Serikat sebanyak 686,4 ribu ton (US$ 256,4 juta),
Ukraina sebanyak 30,5 ribu ton (US$ 66 juta), dan India sebanyak 107,5
ribu ton (US$ 34,3 juta).
Angka impor tersebut bisa terus meningkat jika Indonesia tidak segera melakukan
terobosan baru untuk menghasilkan gandum sendiri. Belum lagi konsumsi
gandum yang juga terus bertambah dengan harga yang terus merangkak naik
di pasar dunia, “Suatu saat nanti saya prediksi akan menyebabkan terjadi
kelangkaan terigu di pasar dalam negeri, dan hal ini harus segera
diantisipasi mulai dari sekarang, jangan reaktif ketika sudah terjadi,”
ujarnya.
Menurut anggota Komisi Pertanian ini, jika ada suara sumbang yang
mengatakan bahwa Indonesia tidak bisa mengembangkan tanaman gandum harus
dikritisi, karena Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah
melakukan penelitian dan mengembangkan varietas unggul gandum tropis dan
subtropis yang dapat ditanam di dataran tinggi dan mampu beradaptasi di
dataran rendah.
Sejumlah wilayah di Indonesia mempunyai prospek bagi pengembangan
gandum, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang memiliki
suhu rendah pada periode tertentu.
Daerah tertentu di NTT (Soe) dan Papua (Merauke) cocok untuk
pengembangan gandum. Penelitian di beberapa daerah lainnya di Indonesia
juga membuktikan bahwa gandum dataran rendah (tropis) dapat berbunga
lebih cepat (35-51 hari) dibandingkan dengan gandum dataran tinggi
(55-60 hari).
”Sekarang tinggal komitmen dari para stakeholder apakah mau untuk
mengembangkannya atau tidak? pemerintah dalam hal ini BPN, Kemenhut,
Kementan, BUMN, dibawah koordinasi Menko Perekonomian harus serius dan
fokus untuk memperkuat sektor pangan dengan mendorong ke arah
kemandirian dalam negeri”. ujarnya. (And)
http://www.beritadewan.com/ketergantungan-impor-gandumm-sudah-sangat-mengkhawatirkan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar