8 Mei 2013
Memasuki bulan Mei setidaknya ada dua momen besar tahunan, hari buruh
dan peringatan hari kebangkitan nasional. Meski berbeda, namun
keduanyamemilikimaknayangsama yakni sebuah perjuangan.
Di satu
sisi kaum buruh memperingati hari tersebut sebagai momen untuk
menyampaikan jeritan hati terkait isu kesejahteraan. Sedangkan di sisi
lain, kebangkitan nasional dimaknai sebagai awal perjuangan bangsa
secara sistematis untuk lepas dari kolonialisme. Realitas tersebut
menunjukkan bahwa bangsa ini masih berjuang dalam mencapai cita-cita
nasional, mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan sosial. Berbicara
tentang tujuan tersebut memang tak semudah yang dibayangkan.
Ketika
bangsa kita tengah berbenah demi satu langkah maju dalam meningkatkan
kesejahteraan, di saat itu pulalah dunia sedang berbenah dengan
mekanisme perdagangan bebas mulai dari yang bersifat regional hingga
global. Munculnya sejumlah kelompok kekuatan ekonomi seperti Uni Eropa
menunjukkan bahwa negaranegara lain juga menghadapi isu peningkatan
kesejahteraan yang sama. Tak jarang bahkan regulasi perdagangan bebas
yang ditandai dengan tarif nihil bagi sejumlah komoditas ataupun bahan
baku terkesan bak upaya menciptakan keadilan atas ketersediaan faktor-
faktor produksi.
Pada fase awal, mekanisme perdagangan bebas
harus diakui memberikan keuntungan yang sangat signifikan bagi
negara-negara yang memiliki kekuatan di bidang permodalan. Dengan modal
yang kuat, disertai kelebihan di bidang inovasi dan kreativitas, negara-
negara yang minim dengan sumber daya alam berhasil memperoleh bahan
baku kualitas terbaik berharga rendah. Alhasil dengan kemampuannya di
bidang produksi, terciptalah produk-produk ekspor dengan harga
kompetitif. Lalu bagaimana halnya dengan negara pemasok bahan baku
mereka?
Tanpa kekuatan modal dan minimnya daya inovasi, maka
negara-negara tersebut hanya berposisi sebagai pemasok serta pasar atas
produk-produk tersebut. Cukup miris memang ketika tak hanya kekayaan
alamnya yang dikuras namun juga kekayaan konsumennya. Tanpa menilai di
mana posisi Indonesia dalam konteks tersebut, satu hal yang perlu
didiskusikan adalah bagaimana strategi yang tepat agar bangsa kita dapat
menikmati peluang yang tercipta dari mekanisme perdagangan bebas maupun
kelompok kekuatan ekonomi ASEAN. Satu alternatif yang dapat dilakukan
adalah dengan mengarahkan perekonomian nasional kembali pada kekuatan
dasar ekonomi Indonesia.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa
Nusantara dikenal karena kekayaan alamnya khususnya yang terbarukan.
Iklim yang mendukung, serta tekstur tanah yang ideal telah membuat ada
begitu banyak ragam komoditas yang harus dikembangkan agar menjadi daya
saing lokal. Sejenak saya ingin mengajak Anda untuk memahami era lumbung
desa di awal tahun 1980-an. Kala itu Indonesia telah berhasil
berswasembada pangan, khususnya beras. Sebagai bahan makanan pokok
sebagian besar masyarakat domestik, beras Indonesia kala itu telah
berhasil tak hanya dalam mencukupi kebutuhan pasar lokal, namun juga
merambah pasar ekspor ke sejumlah negara tetangga.
Namun kini
prestasi itu kian tenggelam. Beras-beras impor pun kini mulai menguasai
pangsa pasar lokal. Pertanyaannya adalah mengapa kita tak mengulang
kembali kisah sukses itu di zaman modern ini? Secara sederhana pola
ekonomi lumbung desa pada dasarnya mempunyai makna yang cukup dalam.
Diawali dengan ajakan untuk berhemat, menggunakan segala sesuatunya
dengan bijaksana, tak kurang dan tak lebih hingga pemahaman pola
pengelolaan persediaan pangan untuk menghadapi musim paceklik.
Namun
di sisi lain, sadarkah kita bahwa pola ekonomi tersebut ternyata
berpotensi memberikan dampak sistemik yang sangat signifikan pada
pertumbuhan sektorsektor lain termasuk manufaktur. Ketika kebutuhan
dasar masyarakat dapat terpenuhi secara mudah maka pikiran mereka dapat
teralokasi pada pengembangan bidangbidang lainnya. Jepang merupakan
salah satu negara yang hingga kini terus mempertahankan serta
mengembangkan kekuatan agraris demi menopang sektor unggulan lainnya.
Terlihat
jelas bagaimana hasil pertanian modern Jepang telah berhasil
memosisikan produkproduknya sebagai barang impor yang mewah. Satu
pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa proteksi dan keberpihakan
pengelola negara pada sektor dasar tersebut mutlak dibutuhkan.
Artinya
bila sektor pertanian dan sumber daya laut dipahami sebagai cikal bakal
pencipta efek sistemik dalam perekonomian nasional, niscaya perhatian
kecil seperti subsidi dan proteksi juga akan dapat menjaga seluruh
sendi-sendi ekonomi yang ada. Sukses menyertai Anda!
ARIES HERU PRASETYO
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
http://www.koran-sindo.com/node/313555
Tidak ada komentar:
Posting Komentar