13 April 2013
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan menugaskan Bulog untuk menstabilkan harga daging
khususnya pada saat Ramadhan dan Lebaran. Menko Perekonomian Hatta
Rajasa menyatakan hal tersebut usai melakukan rapat dengan kementerian
terkait di kantornya.
"Daging sapi harganya masih cukup tinggi sehingga perlu dilakukan stabilisasi harga. Terlebih
untuk menghadapi Lebaran dan puasa, cara yang dilakukan adalah dengan
melakukan operasi pasar oleh Bulog," kata Hatta, Senin 13 Mei 2013.
Sementara,
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, peran Bulog
dalam stabilisasi harga daging sapi tidak hanya akan dilakukan selama
Ramadhan dan Lebaran yang tahun ini jatuh pada Juli - Agustus. "Bulog akan berperan sebagai stabilisator harga, seperti beras," ujarnya. Ia menambahkan, "Keputusan sudah ada, dalam waktu dekat akan keluar izin penugasan."
Sutarto
menganalogikan pentingnya peran Bulog sebagai stabilisator dengan mobil
pemadam kebakaran yang harus bersiaga sepanjang waktu. "Jadi bukan
waktu kebakaran beli mobil pemadam lalu dijual lagi."
Dalam
waktu dekat, Sutarto telah menyatakan kesiapannya untuk mengimpor daging
beku untuk memenuhi kebutuhan masrarakat saat Ramadhan dan Lebaran.
Pengadaannya, sesuai keputusan pemerintah, akan menggunakan dana
pinjaman bank.
Selanjutnya, untuk melakukan stabilisasi harga
daging sapi, kata Sutarto, idealnya Bulog diberi jatah impor 7-10 persen
dari jumlah kebutuhan daging masyarakat. Jumlah itu, menurutnya setara
dengan jumlah beras yang dikelola Bulog. "Tapi harusnya fleksibel, kalau
saat tertentu ada kebutuhan lebih ya harus dihitung ulang," katanya.
Yang
pasti, berapa pun jumlah yang diputuskan pemerintah, jatah impor daging
Bulog di luar kuota 80 ribu ton yang sebelumnya telah ditetapkan dan
dibagi-bagi pada sejumlah importir.
Saat ini, Direktorat Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri mencatat harga daging sapi di Jakarta berkisar
antara Rp 90-95 ribu per kilogram. Sementara, secara nasional harga
rata-rata daging sapi adalah Rp 87.500 per kilogram.
PINGIT ARIA
http://www.tempo.co/read/news/2013/05/13/090480039
Tidak ada komentar:
Posting Komentar